Sang Penghibur

     Aku terbangun dengan kepala yang masih agak pusing akibat terlalu banyak minum tadi malam. Saat ini, jam dinding menunjukkan pukul 11.00 siang. Sebenarnya aku ingin melanjutkan tidur, namun perut ini terlalu lapar dan memaksaku pergi keluar untuk mencari makan. Aku mengambil handuk, baju ganti dan mulai berjalan menuju kamar mandi. Kunyalakan shower dalam keadaan sedang (walaupun tinggal dirumah susun, tapi kamar mandi disini dilengkapi dengan fasilitas shower) dan kubiarkan tetesan airnya terus menerus mengguyur kepala, leher belakang hingga bagian punggung. Dibawah shower inilah biasanya aku menghabiskan waktu terlama dikamar mandi, untuk memikirkan banyak hal tentang hidup ini. Rasa kangen dengan anak, perceraianku dengan istri dan bagaimana mudahnya aku tertipu oleh paras cantik seorang wanita yang berhasil membawa lari hartaku.

      Pukul 12.00 siang, aku sudah rapi dan bersiap keluar rumah untuk mencari makan. Tidak lupa aku juga membawa perlengkapan untuk pertunjukkan nanti malam. Dijalan menuju rumah makan, aku melihat orang-orang yang sedang tertawa dan terlihat bahagia menikmati hari-harinya. Aku hanya bisa terdiam. Seperti biasa, dirumah makan langgananku ini aku memilih tempat dipojok dekat dapur, dipojok ini aku bisa memisahkan diri dari ramainya pengunjung lain yang sedang memperlihatkan kebahagian mereka bersama teman, pacar ataupun keluarganya.

      Jam ditanganku menunjukkan pukul 15.00 sore saat aku tiba ditempat kerjaku sebulan terakhir ini. Café Tawa Penuh Canda “Disinilah tempat anda makan, bersantai dan tertawa sepuasnya”, begitulah motto Café tempatku bekerja. Didepan pintu masuk tertulis, “Pertunjukkan Tawa malam ini : Pukul 19.00” itulah pekerjaanku.

      Dua jam sebelum tampil, aku diberi sebuah amplop berwarna putih oleh manajer Café. Amplop yang berisi setengah gajiku hari ini. Memang seperti itu peraturan disini, setengah lagi dari gajiku dibayar penuh saat pertunjukkan selesai. Gajiku akan dibayar penuh atau syukur-syukur diberi bonus apabila mayoritas pengunjung Café berhasil kubuat tertawa. Amplop itu kumasukkan kedalam tas yang daritadi aku bawa dari rumah. Lalu kukeluarkan perlengkapan make-up dan kostum pertunjukkan untuk hari ini. Setelah satu jam merias diri, aku sudah tidak terlihat seperti pria berantakan yang penuh kesedihan seperti saat masuk kedalam Café ini pada pukul 15.00. Dicermin yang berada dihadapanku, kini terdapat sesosok badut lengkap dengan hidung merah dan perut buncitnya yang terlihat begitu lucu dan menggemaskan.

     Waktu di jam dinding Café menunjukkan pukul 18.30, setengah jam sebelum pertunjukkan dimulai. Aku mencoba untuk melihat dari balik layar panggung, sudah berapa banyak pengunjung yang hadir saat ini. Nampaknya hari ini pengunjung cukup ramai, terlihat ada keluarga yang membawa anaknya dan beberapa lainnya adalah perkumpulan orang kantoran yang sepertinya sedang beristirahat sepulang kerja. Seperti biasa, walaupun sudah sering tampil ditempat ini tetapi rasa grogi tetap hinggap disaat sebelum pertunjukkan dimulai.

     “daaaaan, Pertunjukkan Tawa dimulai!” terdengar suara Narator memberikan informasi kepada pengunjung yang segera dibalas dengan tepuk tangan dan siulan yang meriah. Malam itu aku mengeluarkan seluruh kemampuan candaku, hal-hal terkonyol kulakukan agar orang-orang dihadapanku ini tertawa dan berhasil melupakan semua masalahnya. Karena hanya dengan cara ini aku bisa bertahan hidup dan mendapatkan gaji secara penuh. Upah gaji yang nantinya kugunakana untuk mengirimkan uang kepada anakku yang tinggal bersama ibunya dikota seberang. Dan karena hanya dengan cara ini aku bisa membeli makan dan membayar uang bulanan rumah susun tempat aku tinggal sekarang.

     Pertunjukkan pun selesai, semua bertepuk tangan dan terlihat senyum bahagia diraut wajah mereka saat meninggalkan Café Tawa. Saat-saat setelah pertunjukkan selesai, aku sering berpikir.

      “Aku seorang badut penghibur yang diwajibkan untuk membuat orang lain bahagia dan tertawa melihat tingkahku yang konyol. Mereka hanya tahu betapa lucu dan menggemaskannya aku ini diatas panggung. Saat mereka pulang, mereka mendapatkan apa yang mereka cari. Mereka mendapatkan kepuasan untuk bersantai dan menertawaiku sepuasnya. Mereka bisa tertidur dengan nyenyak dan berhasil melupakan sejenak masalah yang mereka hadapi”

       Tapi yang mereka tidak ketahui adalah ”Disaat make-up ini aku hapus dan kostum ini aku lepas, Aku hanya seorang pria yang hidup dibawah penderitaan dan cobaan yang begitu berat. Aku berjuang membuat mereka tertawa disaat aku seharusnya menangis menghadapi beratnya cobaan. Aku hanya seorang pria yang hidup dalam panggung sandiwara, hidup dalam kepura-puraan. Aku hanya memberikan sandiwara tentang kebahagiaan dan mereka tertawa”

       Kini, Café Tawa Penuh Canda telah sepi. Aku duduk dikursi bar yang kosong, sendiri. Waktu di jam dinding telah menunjukkan pukul 23.30.

         “Pak, saya pesan seperti yang biasa. Tolong buatkan double untuk malam ini”

Kukuh Prakoso, ditulis 14 Februari 2013

Advertisements

Jelajah Gizi : Tepung Ubi Jalar dari Kota Hujan

Kurang lebih sudah hampir empat tahun saya tinggal di Kota ‘Hujan’ Bogor, tinggal di kota orang lain, jauh dari orang tua dan kuliah ditempat yang dikelilingi desa serta hamparan sawah yang luas. Tapi hal ini justru menyenangkan karena bisa belajar dari lingkungan dan membawa saya kepada hobi baru, yakni menikmati keindahan alam dan melihat panganan lokal desa-desa disekitar kampus tempat saya menuntut ilmu.

Kebiasaan baru ini membawa saya bertemu dengan satu desa di belakang kampus IPB bernama Desa Cikarawang yang merupakan wilayah penghasil Ubi Jalar di daerah Bogor. Sumber Karbohidrat ini (ubi jalar) salah satu dari komoditi tradisional yang sangat mudah didapatkan disekitar kita. Sebuah Kelompok Tani di Desa Cikarawang tersebut melakukan pengolahan produk dari Ubi Jalar menjadi Tepung Ubi Jalar, dengan dijadikan tepung, ubi jalar bisa dibuat menjadi makanan yang lebih banyak macamnya. Hal ini dapat dikatakan unik karena belum banyak dikembangkan dan diketahui oleh banyak orang.

proses pengupasan ubi jalar sebelum dijadikan tepung

               Sering saya melihat kebiasaan para ibu rumah tangga yang hobi membuat kue-kue kering dan basah lalu diberikan untuk anaknya maupun acara-acara keluarga. Saya membayangkan bagaimana kalo makanan-makanan itu terbuat dari tepung yang bahan baku nya mudah ditemukan di negara ini khususnya ditempat saya tinggal saat ini, wilayah Jawa Barat. Bagaimana kalo kue-kue itu dibuat menggunakan bahan dasar tepung ubi jalar? Pasti menjadi makanan khas yang unik dan enak. Selain itu, kita bisa mengurangi jumlah impor bahan baku kue yang berasal dari luar negeri.

Lantas saya mencoba untuk membuat kue kering (cookies) dan brownies bersama teman. Rasanya enak dan punya tekstur yang berbeda dari kue yang dibuat dengan tepung terigu. Selain itu, dengan menggunakan tepung ubi jalar untuk membuat kue, kita bisa mengurangi pemakaian gula untuk menambah rasa manis karena ubi jalar memiliki rasa manis alami. Sudah hampir setahun lebih, banyak makanan olahan yang bisa dibuat dari  tepung ubi jalar oleh ibu-ibu Desa Cikarawang Bogor. Sebut saja kue bolu, brownies kukus, kue kering, nastar, dll. Bahkan pernah sekali waktu saat saya berkunjung dibuatkan pempek dari tepung ubi dan rasanya sangat enak. Jadi, dengan kreatifitas ibu-ibu dan keunikan rasa dari tepung ubi jalar, bukan tidak mungkin di masa yang akan datang kita akan melihat kue-kue dari tepung ubi jalar yang berasal dari Bogor ada di kios dan toko penjual kue di kota-kota besar.

ilustrasi : Kue kering dari tepung ubi jalar

tepung ubi jalar desa cikarawang

               Fakta sehat yang berkaitan dengan mengkonsumsi ubi jalar adalah ubi jalar memiliki lebih banyak serat, aman dikonsumsi penderita diabetes dan sangat cocok untuk dijadikan alternatif pangan diet. Berdasarkan fakta itu, diperoleh manfaat dari Ubi Jalar bagi tubuh yakni mengandung antioksidan poten yang mampu melawan kerusakan sel yang dapat mengakibatkan kanker serta berbagai penyakit lain. Selain itu, kandungan pada pada ubi jalar juga sanggup mencegah hipertensi, mengatur tekanan darah, mencegah anemia dan mengurangi resiko penyakit jantung. (RIMANEWS)

Kandungan Gizi yang terdapat pada Ubi Jalar antara lain Vitamin A, Vitamin C, Mangan, Serat, Potasium, Vitamin B6. Lebih jelas lagi kandungan yang terdapat pada setengah kilogram tepung ubi jalar adalah 80,53% Karbhohidrat, 14,22% Air, 3,32% Protein, 3,38 Serat dan 1,03 Gula.

                Bahan untuk membuatnya hanya ubi jalar dan air. Untuk membuat tepung ubi jalar, pada dasarnya smua ubi jalar bisa dijadikan tepung. Tapi yang paling bagus yang putih, dibanding yang kuning atau ungu. Dari semua jenis ubi jalar, ubi jalar putih adalah yang paling mudah untuk dibuat menjadi tepung, selain itu ubi jalar putih lebih mudah ditemukan karena jumlahnya yang banyak.

Caranya :

  • Ubi dikupas dan kemudian dicuci hingga bersih
  • Ubi jalar diparut halus, hingga membantuk seperti bubur.
  • Tambahkan air dengan perbandingan ubi jalar : air adalah 1:2.
  • Setelah itu, bubur disaring dengan menggunakan kain. Bubur ubi jalar diperas hingga sari patinya keluar, dan hanya tertinggal serat saripatinya di dalam kain.
  • Biarkan saripati itu mengendap. Kira-kira tunggu sampai 12 jam.
  • Cairan di atas endapan dibuang, kemudian endapan yang berupa pasta dijemur, bisa menggunakan tampah saat menjemurnya.
  • Hasilnya? Tepung ubi jalar yang bertekstur agak kasar. Apabila kita ingin lebih halus, bisa dihaluskan menggunakan mesin selep, ataupun blender.
  • Setelah menjadi tepung, tepung ubi jalar bisa disimpan dalam waktu yang lebih lama. Bisa digunakan untuk membuat kue muffin, yang bisa tahan selama seminggu, juga makanan asin seperti sosis solo, dan lain sebagainya.

Jadi, ayo kita lestarikan panganan lokal 🙂
#Cintai pangan lokal, cintai petani Indonesia
#Jelazah Gizi, Nutrisi untuk Bangsa


Referensi tulisan
http://www.republika.co.id
http://www.rimanews.com

The Jakarta Post : Determined graduates set up social welfare organization

Berita terkait Bina Desa BEM KM IPB di Koran The Jakarta Post.

The Jakarta Post, Jakarta | Sun, 03/20/2011

“It might sound like nothing, but it meant everything to them when we came and played with them,” Marta Herdian Dinata of Kakak Asuh said about his visit to a school for children suffering from mental retardation.

They told stories and played music for the kids.

“They were so happy, they just needed friends to play with, just like other children,” he said.

Marta and his friends from the Faculty of Psychology at Mercu Buana University founded Kakak Asuh, a small social welfare club of 10 people that aims to improve the quality of living of under-privileged children.

The idea of setting up the organization came to them after they had finished their studies. They were determined to do more outside of school. Marta said the club cooperated with several children charity and aid foundations as well as with the student body at their university.

“We haven’t done much as we just founded Kakak Asuh last year, but we’ve set some agendas for the near future, including a mass circumcision [for Muslim children],” he said.

Besides teaching students about child psychology, the club also gives them insight into running an organization, Marta said.

“This is the least I can do for society. And in someways, it gives meaning to my life,” he said.

Similar to Kakak Asuh, Sahabat Anak (Friend of Kids) also deals a lot with children, especially street children Students from various universities volunteered to organize the first Street Children’s Jamboree in 1997 to commemorate National Children’s Day. Sahabat Anak is the extension of Jamboree, but took its own name in 2005.

“Most of us were final-year university students. We started it with all the limitations, but with strong determination, and we’ve made it,” Linayati Tjindra, one of the co-founders said.

Sahabat Anak now has seven children’s study centers in Jakarta: Sahabat Anak Prumpung, Grogol, Cijantung, Gambir, Manggarai, Tanah Abang and Mangga Dua.

Through Sahabat Anak, she said, she wanted street children to be able to overcome the stigma that they were naughty, filthy and impolite.

“We don’t want them to feel that way, and we don’t want people to think of them that way,” she said.

They gave the children math lessons so that they would not be cheated out of money, taught them how to read and tried to provide them with someone who could act as a role-model for manners and ethics.

“Just simple manners, like saying thank you and please, or that it is bad to use curse words. And we give them compliments when they do something well, so that they can do the same to other people too,” Linayati said.

She said that although the work could be stressful at times, the results were worth the effort.

“The feeling of knowing that the kids can continue their studies, can work in a much better place, is indescribable. It encourages me to keep working,” she said.

Besides social organizations that are independently run by students, students’ executive bodies at universities usually have social organizations that channel students’ interests to help develop society.

At the Bogor Institute of Agriculture (IPB) for instance, in each faculty, they have Bina Desa, an internal organization that allows its students to help a village further develop its potential. Kukuh Prakoso, coordinator of Bina Desa from the Agribusiness department said that he and his friends had gone to Ciaruteun Ilir, Bogor, West Java, and tried to help local people find another source of income.

“Many people there are paid to tie spinach into bundles for vendors. We’re trying to help them get additional income,” he said.

They came to Ciaruteun Ilir three years ago and held discussions with locals before finding the best way to gain additional income. They decided to make chips from spinach and sell them for Rp 1,500 each.

“We’re planning to sell it to markets next year. The chips are currently sold only to students or lecturers at our school,” he said.

University of Indonesia sociologist Ricardi S. Adnan said that student involvement in social organizations was not a new thing; and that some students had been involved since high school.

“But those who love to engage themselves to help people have more room here in college,” he said.

“Besides, they usually see more of their surroundings when they’re in college, and thus their empathy to do more for society grows,” Ricardi said.

To sustain the organization, he suggested that the participants pass on the knowledge that they gained within the organization to others.

“It won’t work well if the batten is not passed on. They need to share the core values of what they’ve done with their juniors.”

ditulis oleh. Novia D. Rulistia
http://www.thejakartapost.com/news/2011/03/20/determined-graduates-set-social-welfare-organization.html

Berkunjung ke Desa Sukadamai

Hari Minggu ini seperti biasa kegiatan Sahabat Cilik Agribisnis berlangsung, saya berangkat menuju basecamp tempat kita berkumpul sebelum ke SDN 01 Carangpulang didepan mushalla Dept Agribisnis. Kegiatan kami untuk hari ini adalah membuat kerajinan dari botol bekas dan mengubahnya menjadi tempat pensil (untuk info lebih lengkap mengenai tempat pensil daur ulang : Proses Pembuatan) bersama-sama adik-adik disana.

Image

http://sosmasonline.blogspot.com

Namun saya tidak bisa bergabung dengan teman-teman yang lain. Karena harus menghadiri pembukaan Bina Desa FEM (Fakultas Ekonomi dan Manajemen) IPB. Saya memang sudah lama menunggu fakultas kami memiliki desa binaan yang dapat dikembangkan potensi desa dan Usaha Kecil Menengahnya. Saat mengisi materi sekaligus mendengarkan perwakilan dari aparat desa disana (Desa Sukadamai, Bogor) berbicara, saya sempat kaget mendengar begitu banyak potensi usaha yang dapat dikembangkan di desa tersebut. Akhirnya saya tidak memutuskan untuk pulang lebih cepat dan memilih untuk ikut serta ke acara berikutnya, yakni berkunjung langsung kerumah warga dan bisnis yang dikembangkan oleh warga desa. Saya memilih untuk ikut kedalam rombongan yang akan berkunjung ke salah satu pelaku usaha “Sepatu Baby” yang terbilang cukup lama menggeluti bisnis tersebut.

Awal pembicaraan kami dengan Bapak Toha (Pemilik Usaha Sepatu Baby) beliau menceritakan perjalanan bisnisnya sejak tahun 1998 hingga saat ini. Namun pembicaraan makin menarik perhatian saya saat beliau menceritakan permasalahan yang dihadapi didalam menjalankan bisnis tersebut. Beliau berkata bahwa sebenarnya di Desa Sukadamai sebagian warganya dianugerahi bakat membuat sepatu yang telah diakui hingga luar Bogor. Namun permasalahan saat ini adalah beliau dan sesama pelaku usaha Sepatu Baby lainnya tidak bergabung didalam satu kelompok usaha. Saya sempat terdiam melihat beliau bercerita dan harapan beliau di masa yang akan datang, lalu saya teringat dengan Dosen Agribisnis yang selalu menjadi inspirasi saya, yakni Bapak Lukman M. Baga. Apa yang dikatakan olehnya memang benar terjadi di masyarakat dan kebetulan pelaku usahanya sudah sadar akan pentingnya mereka bergabung menjadi sebuah kelompok usaha.

Pak Toha mengaku permasalahannya adalah posisi tawar beliau dan teman-temannya tidak kuat dibandingkan dengan para pengumpul. Walaupun beliau juga berkata bahwa bisnisnya selama ini sudah terbilang cukup maju, beliau tetap menginginkan maju bersama dengan para pengrajin lain bukan malah saling menjatuhkan. Menurut beliau dengan terbentuknya sebuah kelompok pelaku usaha Sepatu Baby Desa Sukadamai, para pengrajin ini akan memiliki posisi tawar yang cukup kuat untuk meminta harga beli dari pengumpul yang lebih baik.

Semoga dengan mendengar cerita beliau tadi, teman-teman dari FEM bisa mewujudkan keinginan masyarakat tersebut dengan menghubungkannya kepada dinas terkait atau IPB terlebih khususnya. Hari ini perjalanan saya ke Desa Sukadamai yang belum pernah saya datangi benar-benar memicu semangat untuk terus mengabdi dan mencoba bermanfaat kepada masyarakat.

Earth Hour Indonesia 2012 : Ini Aksiku! Mana Aksimu?

Tahun ini, Earth Hour Indonesia diselenggarakan untuk yang keempat kali. Aksi mematikan lampu secara sukarela selama satu jam akan dilaksanakan pada Sabtu, 31 Maret 2012 pukul 20.30-21.30 waktu setempat. Dengan perkembangan yang sedemikian pesat dari segi wilayah, partisipasi, dan pengakuan masyarakat dunia, Earth Hour tidak hanya menjadi kampanye simbolis lagi, namun telah menjadi sebuah gerakan perubahan.

Ini Aksiku! Mana Aksimu?
Komunitas pendukung Earth Hour selalu mengajak dengan memberi contoh. Oleh karena itu, tema Earth Hour Indonesia selalu berubah per tahun mengikuti prinsip “naik kelas” dari tahun sebelumnya dan mencari relevansi yang dekat dengan isu lokal.

“Pilih bumi selamat atau bumi sekarat?” kami pergunakan sebagai tema di tahun 2009, dilanjutkan dengan “Ubah dunia dalam 1 jam” di tahun 2010 untuk membuat mata publik Indonesia paham bahwa dukungan individu pun dapat berkontribusi pada perubahan dunia. Dengan perubahan tema menjadi “Setelah 1 jam jadikan gaya hidup” dan logo “60+” pada tahun 2011, diharapkan semangat Earth Hour dapat dilakukan tidak hanya setahun sekali dalam 1 hari dan 1 jam, namun bisa dilakukan setiap saat dalam kehidupan sehari-hari oleh siapapun dan dimanapun.

Manfaat dan Hasil Nyata Earth Hour


Saya mencoba untuk memberikan gambaran kegiatan yang diadakan setiap setahun sekali ini dalam waktu 1 jam mematikan listrik bersama-sama. Banyak yang beranggapan bahwa kegiatan ini, hanya kegiatan yang semakin besar, tanpa ada manfaat siknifikan. Keikutsertaan negara-negara terhadap kegiatan ini hanya bertujuan untuk ikut berpartisipasi semata. Tapi, saya mencoba untuk memberikan gambaran manfaat dari segi penghematan yang kita lakukan selama satu jam dalam setahun ini.
Jumlah pengematan listrik sebesar 661,54 MW tersebut bisa tercapai jika 10% saja penduduk Jabar yang terlayani listrik turut berpartisipasi mematikan listrik atau peralatan listrik selama satu jam pada momen Earth Hour,” kata Setiawan dalam sosialisasi Earth Hour di Kantor BPLHD Jabar, Jalan Naripan Kota Bandung. Pengurangan konsumsi listrik sebesar 661,5 MW itu setara dengan mengurangi emisi CO2 sebesar 589 ton atau menghemat biaya Rp 476 juta dan menyediakan oksigen bagi 1.178 orang dan bayangkan apabila kegiatan earth hour ini dijadikan pola hidup dan kebiasaan. Berawal dari satu jam dan jadikan kebiasaan! 😀

Kampanye menyambut Earth Hour 2012


World Water Day 2011

Hari Air Sedunia (World Water Day)

Hari Air Sedunia atau World Water Day dan sering pula disebut sebagai World Day for Water merupakan hari perayaan yang ditujukan untuk menarik perhatian masyarakat sedunia (internasional) akan pentingnya air bagi kehidupan serta untuk melindungi pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan. Peringatan Hari Air Seduniadilaksanakan setiap tanggal 22 Maret.

Pada tahun 2011. Peringatan hari air sedunia atau World Water Day dilaksanakan pada tanggal 22 Maret 2011 di seluruh dunia termasuk di Indonesia.

Sejarah Hari Air Sedunia. Berdasarkan sejarahnya Hari Air Sedunia dicetuskan kali pertama saat digelar United Nations Conference on Environment and Development (UNCED) atau Konferensi Bumi oleh PBB di Rio de Janeiro pada tahun 1992.

Logo Hari Air Sedunia 2011 dalam bahasa Inggris

Pada Sidang Umum PBB ke-47 yang dilaksanakan pada tanggal 22 Desember 1992, keluarlah Resolusi Nomor 147/1993 yang menetapkan pelaksanaan peringatan Hari Air se-Dunia setiap tanggal 22 Maret dan mulai diperingati pertama kali pada tahun 1993.

Tema dan Logo Hari Air Sedunia. Setiap tahun peringatan Hari Air Sedunia memiliki tema dan logo tersendiri yang ditetapkan PBB. Sebagai contoh pada tahun 2009 silam tema yang diangkat adalah “Shared Waters Shared Opportunities” yang di-Indonesiakan menjadi “Air Bersama, Peluang Bersama”. Sedang pada Hari Air Sedunia tahun 2010 mengambil tema “Clean Water for a Healthy World“.

Tema Hari Air Sedunia 2011

Dan kini pada peringatan Hari Air Sedunia tahun 2011, tema yang diangkat adalah “Water for Cities, Responding to The Urban Challenge“. Tema ini dialihbahasakan dalam tema hari air tingkat nasional menjadi “Air Perkotaan dan Tantangannya”.

Uniknya, logo resmi Hari Air Sedunia Tahun 2011 yang dirilis oleh http://www.worldwaterday2011.org (situs resmi World Water Day 2011) dibuat dalam 40 bahasa yang berbeda. Dan salah satu logo tersebut ternyata dibuat dalam bahasa Indonesia.

Logo Hari Air Sedunia dalam bahasa Indonesia

Hari Air Sedunia – Word Water Day Tahun 2011. Dari tema dan logo ini terlihat bahwa isu khusus yang diangkat PBB dalam Hari Air Sedunia tahun 2011 berkaitan dengan air di daerah perkotaan dan berbagai permasalahannya terutama terkait urbanisasi.

Di Indonesia yang katanya negeri kaya air, ternyata juga tidak terlepas dari persoalan air. Di kota-kota, berbagai permasalahan air telah menghantui setiap orang. Ketersediaan Air bersih yang semakin mahal dan langka serta pencemaran air menjadi masalah nyata terutama di kota-kota besar Indonesia.

Untuk itu, peringatan Hari Air Sedunia 2011 seharusnya menjadi tonggak awal kesadaran kita bahwa kita perlu melakukan tindakan nyata untuk menyelamatkan air kita. Tiga hal paling sederhana namun berdampak besar yang bisa kita lakukan adalah mulai hemat air, mengurangi pencemaran air, dan menanam air hujan.

Referensi : www.worldwaterday2011.org (materi dan gambar)

Krisis Air Bersih

This slideshow requires JavaScript.

Kujang : senjata tradisional masyarakat sunda

Awal tinggal di Bogor, hanya hujan mungkin hal yang paling terkenal yang saya tau dari Kota ini. Tapi, satu minggu setelahnya, saya akhirnya tau kenapa banyak orang yang bilang, Bogor kota angkot. Hampir setiap hari dijalan-jalan Bogor selalu dihiasi oleh keramaian angkot-angkot yang saling berebut penumpang di pusat keramaian. Sebulan setelah itu, saya mulai tau kenapa Bogor juga dibilang tempat kuliner yang enak setelah Bandung. Banyak makanan khas sunda dan makanan jenis lain yang enak dan banyak tersebar di Bogor. Tapi ada satu kata lagi yang terkenal dari Bogor, Kujang! apa itu? 

“besok ketemuan didepan tugu Kujang yuk!”, “eh, ada perkumpulan laskar pemuda Kujang tuh, mau ikut ga?” dan kalimat-kalimat lain yang sering menggunakan kata Kujang.


Awalnya mikir, kayaknya Kujang itu sejenis hewan yang terkenal seantero Bogor, sampe-sampe banyak orang yang ngomongin. (kijang -.-‘). Atau nama seorang penjual makanan yang paling terkenal di Bogor (itu kang ujang kuh -.-‘). Atau mungkin nama depan pemain bola Indonesia, Kujang Mulyana? (JAJANG mulyana!). Ternyata setelah melihat literatur di perpus, main ke PEMKOT, PEMKAB dan PEMROV ditambah muterin Bogor selama 3 kali, Kujang yang selama menjadi [?] terjawab juga.

Jangan sekali-sekali melupakan sejarah!! (PROK PROK PROK!!)

KUJANG adalah sebuah senjata unik dari daerah Jawa Barat. Kujang mulai dibuat sekitar abad ke-8, terbuat dari besi, baja dan bahan pamor, panjangnya sekitar 20 sampai 25 cm dan beratnya sekitar 300 gram. Dalam budaya Jawa Barat, Senjata Kujang sering dikaitkan dengan hal-hal yang berbau magis, ilmu tingkat tinggi dan memiliki nilai sakral. Kujang diambil dari kata kata kudihyang (kudi dan Hyang). Kujang juga berasal dari kata Ujang yang berarti manusia yang sakti. Sedangkan Kudi diambil dari bahasa Sunda Kuno yang artinya senjata yang mempunyai kekuatan gaib sakti, sebagai jimat, sebagai penolak bala, misalnya untuk menghalau musuh atau menghindari bahaya. Secara umum, Kujang mempunyai pengertian sebagai pusaka yang mempunyai kekuatan tertentu yang berasal dari para dewa (=Hyang), dan sebagai sebuah senjata, sejak dahulu hingga saat ini Kujang menempati satu posisi yang sangat khusus di kalangan masyarakat Jawa Barat (Sunda). Sebagai lambang atau simbol dengan niali-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya, Kujang dipakai sebagai salah satu estetika dalam beberapa lambang organisasi serta pemerintahan. Disamping itu, Kujang pun dipakai pula sebagai sebuah nama dari berbagai organisasi, kesatuan dan tentunya dipakai pula oleh Pemda Propinsi Jawa Barat.

Di masa lalu Kujang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Sunda karena fungsinya sebagai peralatan pertanian. Pernyataan ini tertera dalam naskah kuno Sanghyang Siksa Kanda Ng Karesian (1518 M) maupun tradisi lisan yang berkembang di beberapa daerah diantaranya di daerah Rancah, Ciamis. Bukti yang memperkuat pernyataan bahwa kujang sebagai peralatan berladang masih dapat kita saksikan hingga saat ini pada masyarakat Baduy, Banten dan Pancer Pangawinan di Sukabumi. Dengan perkembangan kemajuan, teknologi, budaya, sosial dan ekonomi masyarakat Sunda, Kujang pun mengalami perkembangan dan pergeseran bentuk, fungsi dan makna. Dari sebuah peralatan pertanian, kujang berkembang menjadi sebuah benda yang memiliki karakter tersendiri dan cenderung menjadi senjata yang bernilai simbolik dan sakral. Wujud baru kujang tersebut seperti yang kita kenal saat ini diperkirakan lahir antara abad 9 sampai abad 12.

KUJANG

TUGU KUJANG

berada di depan BOTANI SQUARE dekat Terminal Baranangsiang, dari Tol arah Jakarta belok kanan. Merupakan salah satu lambang dari Kota Bogor

Permainan tradisional anak-anak (VISIT BOGOR 2011)

This slideshow requires JavaScript.

Pemerintah Kota Bogor benar-benar tidak kehabisan akal untuk meningkatkan wisatawan yang berkunjung ke Bogor, setelah melakukan kebijakan menurunkan 20% tarif hotel dari skala melati hingga bintang lima dan pemberian potongan harga sebesar 40% bagi 200 restoran yang tergabung dalam Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) dan Asosiasi Industri Pariwisata (ASITA). Kini Pemerintah Kota Bogor berencana mengadakan sebuah acara berskala Internasional. Yakni menampilkan sejumlah permainan tradisional anak-anak di antaranya gatrik, gangsing, engrang, rorodaan dan engkel.

Acara ini diharapkan dapat menarik wisatawan asing untuk berkunjung ke Bogor. Selain itu, acara ini sekaligus memperkenalkan kepada anak-anak Kota Bogor dengan permainan tradisional yang sudah mulai tertelan zaman dan perlahan mulai menghilang. Rencananya acara ini akan diadakan pada Bulan Oktober. Jadi, kita tunggu saja keberhasilan acara tersebut dan seberapa besar minat wisatawan lokal dan asing terhadap acara ini.

semoga nanti acara ini dapat memperkenalkan kepada anak-anak tentang permainan tradisional yang sudah mulai tertelan zaman ini, yang sebenarnya sangat menyenangkan untuk dimainkan bersama-sama

visit bogor 2011, Land of Harmony

KP

Have fun at work?

Some 80% of your life is spent working. You want to have fun at home, why shouldn’t you have fun at work?


Kalimat dari Richard Branson (pengusaha sukses asal Inggris dengan merk dagang Virgin) yang satu ini memang termasuk ampuh bagi kehidupan kita sehari-hari. Bagi orang-orang yang merasa dirinya merasa jenuh dengan pekerjaan yang sangat banyak dan membosankan. Menginginkan liburan dan keluar dari kepenatan dan tekanan pekerjaan.

Kita mengharapkan bisa bersenang-senang diluar jam kerja, bersenang-senang dirumah dengan keluarga dan teman. Tapi kenapa tidak kita mencoba bersenang-senang disaat bekerja.

Membuat suasana pekerjaan menjadi rileks, santai namun semua dapat diselesaikan dengan baik 🙂

Bina Desa BEM KM IPB

Selain menuntut ilmu di Kampus, sebagai seorang mahasiswa kita juga mempunyai tanggung jawab kepada masyarakat. Hal ini tercantum didalam tri darma perguruan tinggi, yakni pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, serta pengabdian masyarakat. Nah, di point ketiga kami melaksanakan tanggung jawab kami sebagai seorang mahasiswa, yaitu mengabdikan diri kepada masyarakat.

Bina desa adalah lembaga struktural di lingkungan BEM KM IPB yang dikhususkan dalam melaksanakan salah satu dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni pengabdian masyarakat. Saat ini desa yang menjadi binaan LS Bina Desa BEM KM IPB adalah Desa Ciaruten Ilir yaitu sebuah desa indah yang terletak di Kecamatan Cingbungbulang, Kabupaten Bogor.
Mengapa kami memilih desa ini? Sebagai mahasiswa Institut Pertanian Bogor (Pertanian), Desa Ciaruteun Ilir kami pilih karena merupakan desa yang luas dengan penduduknya yang mayoritas adalah petani sayuran, dengan hasil komoditi utamanya adalah tanaman bayam.

Bina Desa BEM KM IPB terdiri Badan Pengurus Harian (BPH) yang terdiri dari Direktur, Sekertaris dan Bendahara Umum. Selain itu terdapat juga 5 departemen, Departemen Pendamping Masyarakat (PENMAS), Departemen Komunikasi dan Informasi (KOMINFO), Departemen Pengembangan Usaha Desa (PUD), Departemen Public Relation and Fund Rising (PRF) Departemen Pengembangan Sumber Daya Anggota (PSDA).

“salam semangat dan pengabdian yang tiada henti kepada seluruh Bina Desa yang ada seluruh Inodenesia dari Bina Desa BEM KM IPB :)”

Bina Desa BEM KM IPB : Goes to Village !!


visit us :

binadesabemkmipb.blogspot.com atau facebook : Bina Desa IPB