Pidato Bung Tomo (Surabaya, 10 November 1945)

Naskah Teks Pidato Bung Tomo

Bismillahirrohmanirrohim,
MERDEKA!!!

Saudara-saudara, rakyat jelata, di seluruh Indonesia
terutama saudara-saudara penduduk kota Surabaya.
Kita semuanya telah mengetahui bahwa hari ini
tentara inggris telah menyebarkan pamflet-pamflet
yang memberikan suatu ancaman kepada kita semua.
Kita diwajibkan untuk dalam waktu yang mereka tentukan
menyerahkan senjata-senjata yang telah kita rebut dari tangannya tentara Jepang.
Mereka telah minta supaya kita datang pada mereka itu dengan mengangkat tangan.
Mereka telah minta supaya kita semua datang pada mereka itu dengan membawa bendera putih tanda bahwa kita menyerah kepada mereka.

Saudara-saudara,
didalam pertempuran-pertempuran yang lampau kita sekalian telah menunjukkan
bahwa rakyat Indonesia di Surabaya,
pemuda-pemuda yang berasal dari Maluku,
pemuda-pemuda yang berawal dari Sulawesi,
pemuda-pemuda yang berasal dari Pulau Bali,
pemuda-pemuda yang berasal dari Kalimantan,
pemuda-pemuda dari seluruh Sumatera,
pemuda Aceh, pemuda Tapanuli, dan seluruh pemuda Indonesia yang ada di surabaya ini
di dalam pasukan-pasukan mereka masing-masing
dengan pasukan-pasukan rakyat yang dibentuk di kampung-kampung
telah menunjukkan satu pertahanan yang tidak bisa dijebol,
telah menunjukkan satu kekuatan sehingga mereka itu terjepit di mana-mana.

Hanya karena taktik yang licik daripada mereka itu saudara-saudara
dengan mendatangkan presiden dan pemimpin-pemimpin lainnya ke Surabaya ini
maka kita ini tunduk untuk memberhentikan pentempuran
tetapi pada masa itu mereka telah memperkuat diri
dan setelah kuat sekarang inilah keadaannya.

Saudara-saudara kita semuanya,
kita bangsa Indonesia yang ada di Surabaya ini
akan menerima tantangan tentara Inggris itu
dan kalau pimpinan tentara inggris yang ada di Surabaya
ingin mendengarkan jawaban rakyat Indonesia,
ingin mendengarkan jawaban seluruh pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini,
dengarkanlah ini tentara inggris.

Ini jawaban kita,
ini jawaban rakyat Surabaya,
ini jawaban pemuda Indoneisa kepada kau sekalian

Hai tentara Inggris!
Kau menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera putih untuk takluk kepadamu,
Kau menyuruh kita mengangkat tangan datang kepadamu,
Kau menyuruh kita membawa senjata2 yang telah kita rampas dari tentara jepang untuk diserahkan kepadamu
tuntutan itu walaupun kita tahu bahwa kau sekali lagi akan mengancam kita
untuk menggempur kita dengan kekuatan yang ada
tetapi inilah jawaban kita,
Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah
yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih,
maka selama itu tidak akan kita akan mau menyerah kepada siapapun juga”

Saudara-saudara rakyat Surabaya, siaplah! keadaan genting!
Tetapi saya peringatkan sekali lagi,
jangan mulai menembak,
baru kalau kita ditembak,
maka kita akan ganti menyerang mereka itu, kita tunjukkan bahwa kita ini adalah benar-benar orang yang ingin merdeka.

Dan untuk kita saudara-saudara,
“Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka
semboyan kita tetap: merdeka atau mati!”

Dan kita yakin saudara-saudara
pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita.
Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar,
percayalah saudara-saudara.
Tuhan akan melindungi kita sekalian.

Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
MERDEKA!!!

Youth Day Out

Minggu ketiga selama penelitian di Kebumen

Setiap ngelewatin Tugu Lawet yang ada ditengah kota dari arah rumah mbah, ada satu baliho dipinggir jalan yang selalu menarik perhatian gw. Baliho bertuliskan “YOUTH DAY OUT! Harinya anak muda di Kebumen. Dari kita untuk kita”  Begitu kira-kira inti pesan dari balihonya.

Penasaran dengan YOUTH DAY OUT, gw sengaja stalking semua hal yang berkaitan sama acara ini. Mulai dari official account mereka di Twitter, Facebook sampe nyari info di mbah google. Ternyata acara selama tiga hari ini (tanggal 19-21 April 2013) punya agenda yang cukup padat buat para anak muda yang ada di Kebumen. Mulai dari Band Performance, BMX and Skateboard Performance, Distro Expo, Fashion Show, Campus Expo sampai PES 2013 Competition. Buat acara yang terakhir (PES 2013 Competition) gw sengaja ikut ambil bagian, itung-itung ngilangin stres 🙂

Tapi ada satu hal yang gw suka dari acara ini, yaitu video coming soon YOUTH DAY OUT! di Youtube. Disitu bisa diliat ‘mereka’ yang ada dibalik layar sedang menyusun acara sampai alasan dan tujuan mereka ngadain acara ini. Suka banget sama semangat anak muda di Kebumen yang terlihat di video itu. “Sedikit bicara banyak bekerja. Lebih baik langsung bergerak memberi solusi daripada mengkritik tanpa henti” mungkin itu kalimat pas yang bisa menggambarkan semangat mereka.

Sebagai anak muda, mereka merasa kurang diberi tempat untuk berkreasi dan menyalurkan hobi. Merasa kegiatan di Kota Kebumen hanya itu-itu saja/monoton. Akhirnya mereka berkumpul secara mandiri dan merumuskan acara untuk mereka sendiri, anak muda yang ada di Kebumen. Hebatnya lagi, katanya acara seperti ini baru pertama kali diadakan. Selama ini belum pernah ada acara yang diadakan khusus untuk anak muda di Kebumen. Salut!

Sayang gw cuma bisa ikut acara YOUTH DAY OUT di hari pertama, karena besok udah harus pergi ke Jogjakarta. Tapi semoga acaranya lancar dan sukses. Salut buat semua panitia yang bekerja keras membuat acara ini. Semoga tahun depan acaranya ada lagi dan lebih ramai dari tahun ini 🙂

Fase Hidup

Kadang kala, masa yang kita anggap paling suram dalam fase hidup ternyata adalah masa yang paling indah setelah kita berhasil ngelewatinnya.

Dulu sewaktu gw masih SMA, hal yang paling gw kangenin adalah masa-masa SD, dimana pilihan terpenting dalam hidup gw saat itu hanya sebatas antara beli ager-ager pakai bubuk cokelat atau main gundu didepan rumah.
Gw suka kangen masa SD disaat ketemu masa-masa sulit di SMA (Ujian Nasional, SNMPTN dan ujian-ujian lain)

Makin kesini, pas gw nginjek bangku kuliah. Gw suka kangen sama masa SMA kalo ngeliat anak SMA yang tiba-tiba lewat didepan gw. Hidupnya kayaknya bebas, belum serumit dan sesusah pas gw kuliah sekarang. Mukanya masih pada polos, ketawa lepas sambil masuk kedalam warnet. Pilihan mereka pas didalam warnet hanya sebatas akan main DOTA atau main CS untuk siang ini sampai sore nanti.
Gw suka kangen masa SMA disaat ketemu masa-masa sulit di Bangku Kuliah (UTS, UAS dan sekarang SKRIPSI)

Tapi kayaknya gw ga boleh terlalu lama ngeluh sama fase hidup gw yang sekarang, apalagi sampe iri sama fase hidup orang lain yang mungkin baru baru lahir, lagi di SD, di SMP maupun SMA. Lebih baik gw nikmatin semua proses dan kesulitan yang ada sekarang.

Karena nanti, pada saat gw ada di fase kehidupan yang selanjutnya. Fase hidup orang kantor dan ngejalanin rumah tangga. Mungkin hal yang akan gw kangenin adalah masa-masa seperti sekarang ini. Masa-masa kuliah tingkat akhir.

Masa-masa dimana gw harus bangun pagi, ke pabrik, pulang sore sampe akhirnya bisa istirahat dirumah mbah.
Masa-masa perjuangan bikin skripsi seperti sekarang ini. #FaseHidup

Lintang!!

Kadang lagu yang kita denger diwaktu, tempat dan suasana yang pas berkesan lebih dalam dan lebih mengena. Beberapa hari terakhir ini gw sering banget dengerin lagu LINTANG dari Netral disaat lagi ngerjain skripsi. Lirik, semangat dan irama musik khas Netral bikin semangat jadi tiga kali lipat dari biasanya.

Netral – Lintang Official Video

Lintang, anak kecil yang tinggal dipedalaman, hidup penuh keterbatasan. Tapi semangatnya dalam menuntut ilmu dan mengejar cita-cita tipikal anak rantau yang kuat, pantang menyerah dan tak kenal takut ada di diri bocah kecil ini. Berjuang untuk mengubah garis takdir dimasa kecilnya, bermimpi untuk hidup lebih baik dimasa depan demi adik dan keluarganya.

lintang 2 se_laskar_pelangi_02 Laskar Pelangi-Still Photos (40)

Lirik Lagu LINTANG dari Band Netral

Lintang!
Bujang kecil berkulit hitam mengayuh kebut sepedanya
Lompat, sepuluh kilo setiap hari demi sekolah yang tercinta

Lintang!
Harta karun terpendam jenius kebanggaan kelas kita
Segera, raihlah ilmu segala pelajaran  yang penting gampang dicerna

Kau mutiara
Cahya pelita
Bintang kejora kami

Lintang~
Lintang…!!

Timnas Indonesia?

Dahulu, saya tidak begitu menyukai permainan Timnas Indonesia. Bukan karena tidak cinta dengan Timnas sendiri, tapi saya tidak suka dengan cara Timnas bermain. “Bola entah dimana, yang diambil malah kaki lawan. Teman ada dimana, bola malah diberikan kepada lawan. Postur badan kita kecil, bola malah selalu dimainkan dengan umpan jauh yang tidak terarah” (itu sangat dulu saat kumis yang ada diatas bibir belum dicukur tiap 2 minggu sekali, haha)

Selama 10 tahun menonton Timnas bertanding anggap saja dari tahun 2000-2010, pemain Indonesia yang bermain untuk Timnas saya bisa hapal, karena memang pemain-pemainnya itu saja. Didepan pasti ada Bambang Pamungkas, tengah selalu diisi Syamsul dan Ponaryo. Lantas saya dan anda waktu itu berteriak “Bosan! Ga ada regenerasi! Pemain Indonesia udah tua-tua! Mainnya gini mulu!”

Lantas sekitar tahun 2009-2011 muncul wajah-wajah baru pengisi barisan pemain Timnas. Sebut saja Boaz, Firman Utina, Eka Ramdani, Zulkifli hingga Irfan Bachdim. Pelatih-pelatih berpengalaman mulai datang untuk melatih Timnas, sebut saja Peter White hingga Alfred Riedl. Permainan mereka mulai ada peningkatan, kedisiplinan yang diterapkan pelatih mulai berjalan baik, kita mulai bermain dari kaki Playmaker yang biasanya kita lakukan dengan umpan jauh dari bek tengah. Operan-operan pendek, buka ruang dan semangat pantang menyerah anak muda pemain Timnas menghiasi pemandangan ditiap pertandingan Timnas. Saya yang biasa hanya menonton di Telivisi sampai menonton langsung di stadion GBK karena ikut terbawa euforia kebangkitan Timnas. Tapi tiba-tiba?

Kasus KORUPSI melanda PSSI, ketidak-transparan hasil penjualan tiket hingga dualisme liga Indonesia silih berganti menghiasi berita-berita terkait Sepakbola dan Timnas Indonesia. Puncak dari rasa kekecewaan saya adalah saat pemecatan Alfred Riedl dan Kongres Anak Kecil yang menyatakan diri mereka sebagai penyelamat sepakbola Indonesia (ternyata penyelamat beberapa oknum yang memiliki keinginan terhadap kekuasaan di PSSI dan hanya bisa berkelahi satu sama lain).

“Jika Anda-anda yang ada disana (PSSI) ingin menyelamatkan Sepakbola Indonesia. Tolong lah bekerja untuk kemajuan Bangsa ini, karena diakui atau tidak hanya Permainan Sepakbola Timnas hiburan bagi kami sebagai rakyat Indonesia (ya, karena dari kecil kami selalu bermain sepakbola di lapangan penuh lumpur dan bergawang sandal. Ini Olahraga Rakyat!), hanya itu pemicu semangat kami ditengah permasalahan Bangsa yang semakin hari malah semakin bertambah”  Rakyat Indonesia

“Bung, INI INDONESIA! Bendera kita merah-putih. Jika Bung benar-benar ingin memajukan Sepakbola Bangsa ini, bekerjalah hanya untuk merah-putih dan seluruh rakyatnya. Bukan untuk warna Biru, Kuning, hanya Merah atau lainnya.”  Rakyat Indonesia

Kekesalan saya ini cukup mendasar dan mungkin dirasakan juga oleh rakyat Indonesia yang lain. Beberapa pertandingan terakhir, saya sedih melihat Timnas. Timnas bukan ajang coba-coba pemain dan pelatih! 3 pertandingan 3 pelatih berbeda? 3 pertandingan 30 pemain berbeda? Kalau mau coba-coba dan asal main lakukan di Kompetisi Domestik, buat Kompetisi yang benar. Duduklah kalian dua kubu yang berseteru itu. Karena Timnas harus dibangun dengan Konsep dan Pembinaan yang berkelanjutan. Anda minta kami bersabar? 10 tahun? 20 tahun? Kami bisa terima, asal kan pembinaan itu benar-benar dilakukan dengan cara yang benar. Kalau pertandingan akhir-akhir ini Anda bilang untuk menambah pengalaman pemain muda, mengapa pemain muda selalu berubah-ubah dalam 3 pertandingan? Seleksi? Ini pertandingan Internasional biarpun hanya sekedar pertandingan persahabatan, Kompetisi Internasional, MAKSIMAL. Memberi pengalaman bagi pemain muda? Lantas apa kabar dengan pemain-pemain muda kita yang menimba ilmu di Uruguay? Vise? Jika ingin memberikan pengalaman pemain muda, berikan mereka pengalaman sebagai pemain Timnas di negeri mereka sendiri, kalah tidak apa-apa. Karena itu lah pembinaan yang sebenarnya, mereka sudah cukup lama bermain bersama sebagai satu tim, berikan mereka kesempatan untuk bermain bersama pula tapi menggunakan seragam Timnas Indonesia.

Hanya sekedar Tulisan yang berasal dari hati seorang yang sangat kecewa dengan sistem di tubuh asosiasi sepakbola Indonesia.
Kukuh Prakoso.

The Jakarta Post : Determined graduates set up social welfare organization

Berita terkait Bina Desa BEM KM IPB di Koran The Jakarta Post.

The Jakarta Post, Jakarta | Sun, 03/20/2011

“It might sound like nothing, but it meant everything to them when we came and played with them,” Marta Herdian Dinata of Kakak Asuh said about his visit to a school for children suffering from mental retardation.

They told stories and played music for the kids.

“They were so happy, they just needed friends to play with, just like other children,” he said.

Marta and his friends from the Faculty of Psychology at Mercu Buana University founded Kakak Asuh, a small social welfare club of 10 people that aims to improve the quality of living of under-privileged children.

The idea of setting up the organization came to them after they had finished their studies. They were determined to do more outside of school. Marta said the club cooperated with several children charity and aid foundations as well as with the student body at their university.

“We haven’t done much as we just founded Kakak Asuh last year, but we’ve set some agendas for the near future, including a mass circumcision [for Muslim children],” he said.

Besides teaching students about child psychology, the club also gives them insight into running an organization, Marta said.

“This is the least I can do for society. And in someways, it gives meaning to my life,” he said.

Similar to Kakak Asuh, Sahabat Anak (Friend of Kids) also deals a lot with children, especially street children Students from various universities volunteered to organize the first Street Children’s Jamboree in 1997 to commemorate National Children’s Day. Sahabat Anak is the extension of Jamboree, but took its own name in 2005.

“Most of us were final-year university students. We started it with all the limitations, but with strong determination, and we’ve made it,” Linayati Tjindra, one of the co-founders said.

Sahabat Anak now has seven children’s study centers in Jakarta: Sahabat Anak Prumpung, Grogol, Cijantung, Gambir, Manggarai, Tanah Abang and Mangga Dua.

Through Sahabat Anak, she said, she wanted street children to be able to overcome the stigma that they were naughty, filthy and impolite.

“We don’t want them to feel that way, and we don’t want people to think of them that way,” she said.

They gave the children math lessons so that they would not be cheated out of money, taught them how to read and tried to provide them with someone who could act as a role-model for manners and ethics.

“Just simple manners, like saying thank you and please, or that it is bad to use curse words. And we give them compliments when they do something well, so that they can do the same to other people too,” Linayati said.

She said that although the work could be stressful at times, the results were worth the effort.

“The feeling of knowing that the kids can continue their studies, can work in a much better place, is indescribable. It encourages me to keep working,” she said.

Besides social organizations that are independently run by students, students’ executive bodies at universities usually have social organizations that channel students’ interests to help develop society.

At the Bogor Institute of Agriculture (IPB) for instance, in each faculty, they have Bina Desa, an internal organization that allows its students to help a village further develop its potential. Kukuh Prakoso, coordinator of Bina Desa from the Agribusiness department said that he and his friends had gone to Ciaruteun Ilir, Bogor, West Java, and tried to help local people find another source of income.

“Many people there are paid to tie spinach into bundles for vendors. We’re trying to help them get additional income,” he said.

They came to Ciaruteun Ilir three years ago and held discussions with locals before finding the best way to gain additional income. They decided to make chips from spinach and sell them for Rp 1,500 each.

“We’re planning to sell it to markets next year. The chips are currently sold only to students or lecturers at our school,” he said.

University of Indonesia sociologist Ricardi S. Adnan said that student involvement in social organizations was not a new thing; and that some students had been involved since high school.

“But those who love to engage themselves to help people have more room here in college,” he said.

“Besides, they usually see more of their surroundings when they’re in college, and thus their empathy to do more for society grows,” Ricardi said.

To sustain the organization, he suggested that the participants pass on the knowledge that they gained within the organization to others.

“It won’t work well if the batten is not passed on. They need to share the core values of what they’ve done with their juniors.”

ditulis oleh. Novia D. Rulistia
http://www.thejakartapost.com/news/2011/03/20/determined-graduates-set-social-welfare-organization.html

Earth Hour Indonesia 2012 : Ini Aksiku! Mana Aksimu?

Tahun ini, Earth Hour Indonesia diselenggarakan untuk yang keempat kali. Aksi mematikan lampu secara sukarela selama satu jam akan dilaksanakan pada Sabtu, 31 Maret 2012 pukul 20.30-21.30 waktu setempat. Dengan perkembangan yang sedemikian pesat dari segi wilayah, partisipasi, dan pengakuan masyarakat dunia, Earth Hour tidak hanya menjadi kampanye simbolis lagi, namun telah menjadi sebuah gerakan perubahan.

Ini Aksiku! Mana Aksimu?
Komunitas pendukung Earth Hour selalu mengajak dengan memberi contoh. Oleh karena itu, tema Earth Hour Indonesia selalu berubah per tahun mengikuti prinsip “naik kelas” dari tahun sebelumnya dan mencari relevansi yang dekat dengan isu lokal.

“Pilih bumi selamat atau bumi sekarat?” kami pergunakan sebagai tema di tahun 2009, dilanjutkan dengan “Ubah dunia dalam 1 jam” di tahun 2010 untuk membuat mata publik Indonesia paham bahwa dukungan individu pun dapat berkontribusi pada perubahan dunia. Dengan perubahan tema menjadi “Setelah 1 jam jadikan gaya hidup” dan logo “60+” pada tahun 2011, diharapkan semangat Earth Hour dapat dilakukan tidak hanya setahun sekali dalam 1 hari dan 1 jam, namun bisa dilakukan setiap saat dalam kehidupan sehari-hari oleh siapapun dan dimanapun.

Manfaat dan Hasil Nyata Earth Hour


Saya mencoba untuk memberikan gambaran kegiatan yang diadakan setiap setahun sekali ini dalam waktu 1 jam mematikan listrik bersama-sama. Banyak yang beranggapan bahwa kegiatan ini, hanya kegiatan yang semakin besar, tanpa ada manfaat siknifikan. Keikutsertaan negara-negara terhadap kegiatan ini hanya bertujuan untuk ikut berpartisipasi semata. Tapi, saya mencoba untuk memberikan gambaran manfaat dari segi penghematan yang kita lakukan selama satu jam dalam setahun ini.
Jumlah pengematan listrik sebesar 661,54 MW tersebut bisa tercapai jika 10% saja penduduk Jabar yang terlayani listrik turut berpartisipasi mematikan listrik atau peralatan listrik selama satu jam pada momen Earth Hour,” kata Setiawan dalam sosialisasi Earth Hour di Kantor BPLHD Jabar, Jalan Naripan Kota Bandung. Pengurangan konsumsi listrik sebesar 661,5 MW itu setara dengan mengurangi emisi CO2 sebesar 589 ton atau menghemat biaya Rp 476 juta dan menyediakan oksigen bagi 1.178 orang dan bayangkan apabila kegiatan earth hour ini dijadikan pola hidup dan kebiasaan. Berawal dari satu jam dan jadikan kebiasaan! 😀

Kampanye menyambut Earth Hour 2012


Terima kasih Bapak Alfred Riedl

Lama juga udah ga posting di blog ini 🙂

Sudah dari pagi sebenarnya pingin menulisnya, tapi selalu gagal karena bolak-balik ke kasur pegang buku (besok uts). Tapi pusing juga lama-lama memendam perasaan jengkel ini. Mungkin sudah banyak yang dengar berita bahwa beberapa hari setelah Ketum PSSI yang baru menjabat, dia mengeluarkan keputusan yang bisa dibilang sangat heboh, aneh, atau mungkin kata yang tepat TIDAK DAPAT DIMENGERTI.

Beliau mengambil keputusan untuk mencopot pelatih TIMNAS SENIOR yang berhasil membawa Indonesia bermain di partai final Piala AFF. Mengapa saya bilang keputusan tersebut TIDAK DAPAT DIMENGERTI? Belum hilang dari ingatan saya di Piala AFF kemarin, sekumpulan anak muda pilihan Alfred Riedl berhasil membuat kita semua tersenyum, lompat-lompat, bahkan dengan lantang dan tidak kenal lelah menyanyikan lagu Garuda Didadaku. (saat ini saya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala) saya ingat Piala AFF kemarin saya sempat terjatuh dari motor bersama teman saya beberapa jam setelah membeli tiket pertandingan Indonesia melawan Filiphina. Baru kali ini saya sangat bersemangat menonton TIMNAS saat berlaga di GBK secara langsung, tidak hanya sekali saya menonton TIMNAS secara langsung bahkan dua kali dengan partai final. Saya tahu, antrian di GBK pasti sangat panjang, saya tahu perjalanan saya dari Bogor menuju GBK tidak dapat dikatakan dekat, saya tahu bahwa TIMNAS bisa saja kalah, saya pun tahu bisa saja saya mengalami kecelakan karena mengantuk disaat pulang menuju Bogor di malam hari. Tapi semua pikiran itu saya buang jauh-jauh demi melihat pertandingan TIMNAS yang diasuh oleh Bapak Alfred Riedl. Semangat mereka bertanding, aliran bola yang diberikan Firman, tarian indah dari Okto, Irfan dan Ridwan, berlari menyisir sayap yang dilakukan oleh Nasuha dan Zulkifli, dinginnya Gonzales. Semua itu membuat saya bersemangat dan tak kenal lelah untuk mendukung mereka.

Baru hari Minggu kemarin sebenarnya saya tersenyum dan yakin bahwa TIMNAS akan bisa berbicara melawan Turmenistan di pertandingan pra piala dunia nanti. Ya..saya melihat nama Boaz diantara nama-nama yang dibawa Bapak Alfred Riedl, itu membuat saya semakin bersemangat menebak gaya permainan apa yang akan dilakukan oleh TIMNAS setelah Boaz masuk. Tapi tiba-tiba beberapa hari setelah pengumuman itu, kabar mengejutkan datang, Bapak Alfred Riedl dicopot dari jabatannya sebagai pelatih TIMNAS. Saya benar-benar terkejut dan tidak habis pikir. Ini terlalu mendadak dan terlalu dekat dengan pertandingan melawan Turmenistan di kandang mereka. Media cetak, elektonik hingga radio mengabarkan berita ini, semua menerka-nerka apa yang dipikirkan oleh Ketum PSSI kita yang baru. Jika memang permasalahannya ada di administrasi, mengapa tidak menunggu setelah TIMNAS menjalani dua laga melawan Turmenistan lalu secara baik-baik memecatnya dan jika memang Bapak Alfred Riedl melatih dengan baik, PSSI yang baru bisa mengontraknya lagi dengan kontak yang lebih jelas. Mengganti pelatih bukan sebuah kebijakan yang bisa diambil begitu saja. Butuh waktu lagi bagi para pemain untuk beradaptasi dengan gaya permainan yang diinginkan oleh pelatih baru, butuh waktu lagi bagi pelatih untuk mengetahui kemampuan tiap anggota timnya. Ini bukan seperti memecat pembantu dan dengan mudah menemukan pembantu yang baru. Ini seperti kehilangan seorang pacar dan membutuhkan waktu untuk menemukan seseorang yang bisa menggantikannya, butuh pendekatan, memahami satu sama lain hingga akhirnya cocok dan bisa berjalan bersama-sama.

Tapi ya apalah saya ini.

Saya hanya berharap pelatih TIMNAS yang baru dapat bekerja dengan maksimal dan semoga tidak ada tekanan bagi dia untuk mengembangkan permainan sesuai harapannya.

Terima kasih Bapak Alfred Riedl telah memberikan senyuman bagi kami selama menanganani TIMNAS. Terima kasih atas pelajaran tentang semangat pantang menyerah yang sangat baik bagi seluruh pemain TIMNAS, bahwa bermain diluar kandang boleh saja kita kalah, tapi tidak untuk di kandang. Mungkin saya akan merindukan sapaan dan lambaian tangan yang selalu Bapak berikan kepada suporter Indonesia disaat mengecek lapangan sebelum laga dimulai. Mungkin saya akan merindukan saat-saat dimana saya menertawakan Bapak, disaat semua offisial, suporter dan pemain merayakan gol tapi Bapak hanya diam terpaku bahkan terkadang tetap serius di pinggir lapangan.

Terima kasih Bapak Alfred Riedl, semoga anda tetap sukses dimanapun anda bekerja nantinya.

Beda Warna Beda Liga dengan Semangat yang Sama

Saat ini, Bogor memiliki satu tim sepakbola selain Persikabo yang biasanya selalu mereka dukung. Dulu, hampir setiap Persikabo bertanding, jalan-jalan Bogor dipadatkan oleh warna hijau dan kuning (Kabomania). Jalan-jalan menuju stadion padjajaran selalu terkena kemacetan, lagu-lagu khas Kabomania terdengar dimana-mana. Namun saat ini, warga Bogor nampaknya harus membagi cintanya untuk satu kesebelasan baru di kota tersebut. Bogor Raya, salah satu tim penghuni LPI (Liga Primer Indonesia). Poster-poster di sudut kota memampangkan jadwal pertandingan tim ini, baliho-baliho raksasa dan papan-papan reklame memasang lambang dan para pemain tim baru ini. Seolah melakukan promosi besar-besaran saat pilkada atau pemilu berlangsung 🙂

Saya akan membahas sejarah serta perjalanan kedua tim ini. Walau berbeda warna, berbeda liga, namun kedua tim ini tetap dengan semangat yang sama, semangat Kujang.

PERSIKABO

Persikabo (singkatan dari: Persatuan sepak bola Indonesia Kabupaten Bogor) adalah sebuah klub sepak bola Indonesia yang bermarkas di Kab. Bogor. Tim dengan julukan Laskar Pajajaran ini milik Pemerintah Kabupaten Bogor, merupakan salah satu kontestan Divisi Utama musim 2010/2011. Persikabo didirikan tahun 1973, didirikan oleh beberapa Muspida dan praktisi sepakbola yang ada di Kabupaten Bogor seperti, Caca Samita yang waktu itu menjabat sebagai Bupati Bogor, Letkol Djuari (Ketua DPRD Kabupaten Bogor) Didi Suwardi (Ketua Umum KONI Kabupaten Bogor ) Abdullah Alwahdi (anggota DPRD Kabupaten Bogor), dan Armen Syafii (Sekretaris Umum KONI).

UTS

JADWAL udah terpasang di dinding depan meja belajar \ooo/

UTS didepan mata, semua orang mulai sibuk fotocopy catetan temen (kayaknya gua doang :P), minjem soal, beli kopi buat stock begadang, cemilan-cemilan, numpuk buku diatas meja, dll. Dan gua lebih milih untuk nge-blog, hhe

Banyak ekspresi mahasiswa yang keluar pas denger kata uts.

“what? udah uts lagi aja!”

“akhirnya uts juga, bisa pulang T.T”

“biasa aja kali, ga usah lebay. Masih ada uas”

Ekspresi-ekspres diatas mungkin ngewakilin sebagian mahasiswa. Selain itu, setiap denger kata uts, apalagi udah didepan mata, banyak hal yang dilakuin sama mahasiswa. Disini gua ksh hal-hal yang sering gua liat disekitar 🙂

“jalanan deket kampus yang biasa rame jadi sepi”

“antrian yang puanjaaang ditempat fotocopy (dramatisir)”

“nyusun jadwal belajar”

“berdoa memohon kelancaran saat ujian”

“nelpon keluarga (mungkin mamah, papah, mbah, om, bude atau anak kedua om dari keluarga mamah) minta doa restu”

“kalo ga nelpon si ehem, mmmph”

“atau ga nelpon…”

“belajar giat bgd kalo udah mepet”

“tapi jangan lupa istirahat dan tidur”

“ga mau kan pas lagi ujian malah tidur”

cuma sekedar iseng dan sharing aja sambil istirahat BELAJAR (spik), semangat untuk besok. Semoga lancar dan diberi kemudahan :O

amiiiiiiiin

KP