Rangkaian Agribisnis Festival 2012

Acara yang dipersiapkan sejak bulan mei 2012 ini pun selesai dan mendapat respon yang baik dari semua pihak yang berpartisipasi pada acara ini. Banyak pengalaman baru yang didapat dari acara Agribisnis Festival 2012, yang belum pernah didapat dari acara-acara yang pernah saya ikuti sebelumnya. Semoga semua yang dilalui panitia selama persiapan hingga selesai acara ini dapat menjadi pengalaman berharga didalam menjalankan acara-acara Agribisnis selanjutnya.

para pendukung acara Agribisnis Festival 2012

Saya coba menceritakan rangkaian keseluruhan dari acara Agribisnis Festival 2012, dimulai dari tanggal 6 Oktober 2012, yakni Kampanye Diversifikasi Pangan On The Road. Melakukan kampanye yang bekerjasama dengan HIMITEPA IPB di sekitaran tugu kujang bogor. Melakukan kampanye dengan bertatap langsung dengan warga bogor, menjelaskan secara singkat, membagikan pamflet penjelasan diversifikasi pangan dan acara Agribisnis Festival serta pembagian makanan olahan yang terbuat dari tepung ubi.

Acara selanjutnya adalah Workshop dan Expo pada tanggal 6 Oktober 2012. Acara workshop diadakan dalam dua sesi, pertama bertujuan untuk memberitahukan kepada warga Kampus IPB Dramaga dan sekitarnya penjelasan mengenai diversifikasi pangan dan cara penerapan sederhana dikehidupan kita sehari-hari yang disampaikan oleh Bapak Bayu K (Wakil Menteri Perdagangan RI) dan Ibu Gayatri (perwakilan dari Badan Ketahanan Pangan Nasional). Acara ini berlangsung di audit CCR IPB yang merupakan gedung baru baru di IPB. Ikut meramaikan acara ini para dosen, mahasiswa AGB hingga alih jenis dan program magister lain di IPB. Sekitar 15 pengisi stand expo ditampilkan di acara ini. Sesi kedua berisikan tentang usaha diversifikasi pangan melalui program kemitraan antara lembaga pemerintah, sektor swasta dan kelompok tani yang selama ini mengembangkan produk lokal sebagai pengganti sumber pangan yang masih impor. Sesi ini menghadirkan perwakilan dari Kementerian Koperasi dan UKM, PT Sierad Produce dan Ketua Gapoktan Mandiri Jaya Desa Cikarawang. Selama acara berlangsung acara ini diliput beberapa media yang mendukung berjalannya acara ini, antara lain Green TV dan ANTV.

Setelah itu, seluruh rangkaian dari Agribisnis Festival 2012 ditutup dengan acara Fun Bike, Penanaman Pohon, Makan Besar dan Pasar Kuliner Kreatif pada tanggal 14 Oktober 2012. Acara ini merupakan bentuk kampanye dan usaha untiuk mengakrabkan seluruh lapisan (warga masyarakat sekitar IPB, dosen, karyawan dan mahasiswa) yang ada di IPB secara umum maupun Departemen Agribisnis lebih khusus. Acara ini sendiri mendapat apresiasi yang baik dari para peserta dan pendukung acara dengan lihat dari keramaian dan suasana acara di belakang GWW pada Hari Minggu pagi.

Video Fun Bike Agribisnis Festival 2012

Dimulai sejak pagi hari bersenang-senang dengan sepeda bersama menuju BMKG belakang IPB dan melakukan penanaman pohon sengon sebagai wujud kepedulian dalam menjaga lingkungan. Acara dilanjutkan dengan membuat makanan olahan yang dibuat oleh Ibu-ibu KWT Desa Cikarawang dan menikmati stand-stand makanan olahan yang ada di Pasar Kuliner Kreatif. Karena acara pada hari Minggu, suasana menjadi ramai dan terlihat Pasar Kuliner yang terisi penuh oleh 15 stand dipadati oleh orang-orang yang ingin menikmati kuliner kreatif hasil olahan mahasiswa IPB dan lainnya. Pembagian hadiah, games hingga doorprize semakin memeriahkan acara penutupan Agribisnis Festival 2012.

Sebagai perwakilan dari panitia Agribisnis Festival, saya ingin menyampaikan permintaan maaf apabila ada penyajian, sambutan maupun perbuatan yang kurang berkenan untuk seluruh peserta, tamu undangan, pengisi acara, sponsor dan lain-lain. Tapi melihat banyaknya respon yang baik terhadap acara ini, kami mengucapkan terima kasih dan menjadikan respon positif tersebut sebagai motivasi untuk mengadakan acara yang lebih baik lagi di kemudian hari ūüôā

Dibalik layar :

Advertisements

5 Kekuatan Bersaing Perusahaan (Michael Porter)

Anaisis faktor-faktor eksternal pada perusahaan Nestle Indonesia dengan bantuan atau pendekatan teori ‚ÄĚ5 kekuatan bersaing M. Porter‚ÄĚ

Didalam teori persaingan kita mengenal ada suatu teori dari Michael Porter yang sangat terkenal pada saat menganalisis persaingan atau competition analysis. Teori tersebut sangat terkenal dengan istilah Porter Five Forces Model. Intinya sebenarnya Porter menilai bahwa perusahaan secara nyata tidak hanya bersaing dengan perusahaan yang ada dalam industri saat ini. Analisis yang biasa digunakan sebuah perusahaan adalah siapa pesaing langsung perusahaan tersebut dan akhirnya mereka terjebak dalam ‚ÄĚcompetitor oriented ‚ÄĚ, sehingga tidak mempunyai visi pasar yang jelas. Dalam five forces model digambarkan bahwa kita juga bersaing dengan pesaing potensial kita, yaitu mereka yang akan masuk, para pemasok atau suplier,para pembeli atau konsumen, dan produsen produk-produk pengganti. Dengan demikian, kita harus mengetahui bahwa ada lima kekuatan yg menentukan karakteristik suatu industri, yaitu :

1)      intensitas persaingan antar pemain yg ada saat ini,
2)      ancaman masuk pendatang baru,
3)      kekuatan tawar menawar pemasok,
4)      kekuatan tawar pembeli, dan
5)      ancaman produk pengganti.

Kekuatan pertama yang biasanya menjadi fokus para pemasar adalah masalah intensitas rivalitas atau persaingan antar pemain dalam industri. Biasanya intensitas persaingan itu dipengaruhi banyak faktor, misalnya struktur biaya produk. Misalkan semakin besar porsi biaya tetap dalam struktur biaya , maka semakin tinggi intensitas persaingan. Hal ini disebabkan, setiap penjual memiliki tingkat break even point yang tinggi sehingga pada umumnya harus menjual produk dalam jumlah yang besar, dan bila perlu dilakukan ‚Äúbanting harga‚ÄĚ agar bisa mencapai tingkat break even tersebut.

Kedua, ancaman masuk dari pendatang baru, kekuatan ini biasanya dipengaruhi oleh besar kecilnya hambatan masuk ke dalam industri. Hambatan masuk kedalam industri itu contohnya antara lain : besarnya biaya investasi yang dibutuhkan, perijinan ,akses terhadap bahan mentah, akses terhadap saluran distribusi, ekuitas merek dan masih banyak lagi. Biasanya semakin tinggi hambatan masuk , semakin rendah ancaman yg masuk dari pendatang baru.

Ketiga adalah kekuatan tawar pemasok atau supplier. Biasanya sedikit jumlah pemasok, semakin penting produk yang dipasok, dan semakin kuat posisi tawarnya. Demikian juga dengan kekuatan keempat yaitu kekuatan tawar pembeli ,dimana kita bisa melihat bahwa semakin besar pembelian, semakin banyak pilihan yang tersedia bagi pembeli dan pada umumnya akan membuat posisi pembeli semakin kuat. Kekuatan yang terakhir adalah soal produk ‚Äďproduk substitusi, seberapa banyak produk substitusi di pasar. Ketersedian produk substitusi yg banyak akan membatasi keleluasaan pemain dalam industri untuk menentukan harga jual produk.

Faktor Eksternal

Kelima kekuatan bersaing menurut Porter diatas dapat dikategorikan sebagai faktor eksternal. Definisi dari faktor eksternal perusahaan itu sendiri adalah lingkungan bisnis yang melengkapi operasi perusahaan yang memunculkan peluang dan ancaman.  Faktor ini mencakup lingkungan industri dan lingkungan bisnis makro, yang membentuk keadaan dalam organisasi dimana organisasi ini hidup. Elemen-elemen dari Faktor eksternal tersebut adalah pemegang saham, pemerintah, pemasok, komunitas lokal, pesaing, pelanggan, kreditur, serikat buruh, kelompok kepentingan khusus, dan asosiasi perdagangan.  Lingkungan kerja perusahaan umumnya adalah industri dimana perusahaan dioperasikan.

Lingkungan bisnis makro atau lingkungan sosial terdiri dari kekuatan umum yang tidak berhubungan langsung dengan aktivitas-aktivitas jangka pendek organisasi tetapi dapat dan sering mempengaruhi keputusan-keputusan jangka panjang.  Perusahaan-perusahaan besar membagi membagi lingkungan sosial dalam satu wilayah geografis menjadi empat kategori, terdiri dari faktor ekonomi, sosiokultural, teknologi dan politik-hukum dalam hubungannya dengan lingkungan perusahaan secara keseluruhan.

Sehingga apabila dilihat dari penjelasan mengenai definisi Faktor Eksternal perusahaan dikaitkan dengan 5 kekuatan bersaing M. Porter, maka 5 kekuatan bersaing Porter merupakan Faktor Eksternal. Penjelasan lebih lanjut menganai analisis Faktor Eksternal adalah faktor ini dibagi menjadi dua, yakni Peluang (opportunities) dan Ancaman (threats). Ancaman adalah suatu kondisi dalam lingkungan umum yang dapat menghambat usaha-usaha perusahaan untuk mencapai daya saing strategis. Sedangkan peluang adalah kondisi dalam lingkungan umum yang dapat membantu perusahaan mencapai daya saing strategis.

 Analisis Faktor Eksternal (Peluang dan Ancaman) pada PT Nestle Indonesia

Peluang

  • Nestle dan PT. Indofood Sukses Makmur membuat perusahaan patunganbernama PT. Nestle Indofood Citarasa Indonesia. Hal ini akan menciptakanpeluang baru untuk memperluas jangkauan bisnis mereka. Terutama untuk Nestl√© untuk mendistribusikan produk-produk mereka seperti produk merekabumbu, Maggi.
  • Nestl√© SA dan The Coca Cola Company membuat perusahaan patungan 50:50 di Indonesia bernama PT AdeS Waters Indonesia Tbk untuk Hidup Nestl√©Murni.
  • Meningkatkan tingkat pendidikan dan pendapatan masyarakat Indonesia dankenyataan bahwa sebagian besar keluarga di Indonesia adalah orang tua mudadengan dua anak. Dengan bekerja orang tua yang sibuk, alokasi dana untuk anak-anak mereka semakin besar.
  • Di Indonesia, ada kebiasaan untuk mengkonsumsi produk yang lebih cepat atau ready-to-eat/drink. Dengan teknologi saat ini untuk menghasilkan produk instan dengan paket aman, Nestl√© mampu memenuhi kebutuhan ini.
  • ¬†Masih ada orang yang memiliki tingkat pendidikan rendah. Orang-orang ini telah menjadi buruh murah bagi pabrik-pabrik Nestle di Indonesia.

Ancaman

  • Ada persepsi dalam masyarakat bahwa merek asing lebih baik daripada yanglokal. Nestl√© adalah dianggap sebagai merek lokal.
  • Ada merek lebih asing daripada yang lokal yang menghasilkan jenis produk yang sama. Sehingga sulit untuk Nestl√© untuk bersaing.
  • Mead Johnson, salah satu pesaing Nestl√© dalam menjual susu, telah membukapabrik di Indonesia. Beberapa produk Mead Johnson:Sustagen anak, SMP, Enfagrow
  • Jadi sebagai perusahaan susu lainnya internasional seperti Abbott (gain ditambah muka), Wyeth (Procal) dan Nutricia (Bebelac, Nutrilon). Perusahaan-perusahaan ini pesaing utama Nestl√© untuk super premium dansusu premium kelas.
  • Untuk kelas rendah susu, Nestle juga memiliki beberapa pesaing, sepertiFrisian Flag, Indomilk, dan Sari Husada (SGM).
  • Untuk makanan bayi, pesaing adalah Indofood (promina, matahari)
  • Ada banyak tuntutan dari konsumen untuk nutrisi tambahan dalam produk susu. Itu membuat Nestl√© telah melakukan banyak penelitian danmenambahkan nutrisi khusus untuk produk mereka.
  • Kesadaran untuk minum susu sejak usia dini masih rendah di Indonesia.

               Memang tantangan dari produk lain merupakan penghambat untuk produknestle tapi menurut kami nestle bisa menghadapinya, nestle sudah berdiri sekitar 41 tahun, produk nestle sudah mempunyai tempat di indonesia khususnya untuk para konsumennya (pelanggannya), sudah banyak yang menngunakanproduk nestle dari dahulu dan percaya akan peroduk tersebut, jadi bila adaproduk lain itu tidak begitu mempengaruhi karena Nestlé memiliki jaringandistribusi yang besar. Produk tersedia di mana-mana, dari supermarket besar dikota-kota besar untuk kios-kios kecil di desa-desa dan Memiliki posisi yang baikdi mata konsumen.

Daftar Pustaka

Ariningrum, Lukeria. 2011. Ekonomi Manajerial. [terhubung berkala].                http://kekelukeria.wordpress.com/2011/10/05/5-kekuatan-dalam-persaingan/

Penulis : Kukuh Prakoso, sebagai bahan dalam tugas Strategi dan Kebijakan Bisnis (Agribisnis IPB)

Kampanye Diversifikasi Pangan

Hari Sabtu, 29 September 2012 Himpunan Profesi Peminat Agribisnis IPB mengadakan sebuah Kampanye Diversifikasi Pangan di 10 titik jalanan Kota Bogor dan berpusat didepan Tugu Kujang dan Botani Square. Acara ini merupakan bentuk dukungan terhadap penganekaragaman pangan atau sering disebut Diversifikasi Pangan. Kampanye yang dilakukan mahasiswa Agribisnis ini dilakukan dengan cara yang unik yakni membagikan makanan olahan seperti Brownies, Dadar Gulung dan Ondemon (lupa namanya, haha) yang kesemuanya terbuat dari tepung ubi jalar dan bukan terbuat dari tepung terigu (penjelasan mengapa kami menggunakan tepung ubi jalar dapat dibaca di Tepung Ubi Jalar Hurip), orasi di Tugu Kujang, penjelasan singkat dibeberapa titik lampu merah, membagikan flyer dan lain-lain.

Acara Kampanye Diversifikasi Pangan ini
bekerjasama dengan teman-teman dari Himpunan Profesi Teknologi Pangan. Jika di Agribisnis, Kampanye ini termasuk kedalam rangkaian acara Agribisnis Festival 2012, sedangkan bagi teman-teman Teknologi Pangan, Kampanye ini termasuk kedalam acara I-Food Day. Total terdapat 100 mahasiswa yang ikut berpartisipasi dalam Kampanye ini.

Kegiatan Kampanye Diversifikasi Pangan dimulai dengan mengadakan Kumpul Bersama untuk briefing di Koridor Fateta pada
pukul 11.00-11.45 WIB, lalu para peserta dibubarkan sementara untuk istirahat, Shalat dan makan. Sekitar pukul 13.00 WIB para peserta berangkat dari Kampus IPB Dramaga menuju Kampus IPB Baranangsiang. Namun ternyata, kondisi jalanan Kota Bogor hari itu sangat padat karena weekend, sehingga angkot yang disewa terjebak macet dan baru sampai di lokasi sekitar pukul 14.15 WIB. Setelah semua berkumpul, barulah para peserta berpencar ke 10 titik disekitar Tugu Kujang untuk melakukan Kampanye Diversifikasi Pangan hingga pukul 16.30 WIB.

Acara Agribisnis Festival sendiri masih terdiri dari 2 rangkaian acara lagi. Workshop dan Expo yang menghadirkan Wakil Menteri Perdagangan RI dan Kepala Badan Ketahanan Pangan pada tanggal 6 Oktober 2012 serta Funbike, Makan Besar, Penanaman Pohon dan Pasar Makanan pada tanggal 14 Oktober yang semua acaranya akan berlangsung di Kampus IPB Dramaga Bogor. Info : Agribisnis Festival

Untuk info lebih lengkap, bisa follow di akun twitter Agribisnis Festival 2012 : @agrifestIPB terima kasih ūüôā

AGRIBISNIS FESTIVAL 2012

Himpunan Profesi Peminat Agribisnis IPB dengan bangga mempersembahkan sebuah rangkaian kegiatan yang ingin meningkatkan pengetahuan masyarakat dan mengajak peran serta masyarakat secara langsung terhadap permasalahan ketahanan pangan Indonesia.

Acara yang bernama “Agribisnis Festival 2012” ini untuk tahun 2012 mengangkat tema¬†“Mengembangkan Pangan Lokal Berbasis Sistem Agribisnis dalam Mendukung Diversifikasi Pangan”. Agribisnis Festival 2012 diadakan pada tanggal 29 September – 14 Oktober 2012 di beberapa tempat (Kampus IPB Dramaga, Desa Lingkar Kampus dan Jalan Raya Pajajaran Bogor) dan dibagi menjadi 3 inti acara, yakni Kampanye Ketahanan Pangan, Workshop dan Penutupan (Funbike, Makan Besar dan Pasar Makanan Lokal).

Sabtu, tanggal 29 September 2012 – Kampanye Diversifikasi Pangan On The Road
bertempat di Jalan Raya Pajajaran Bogor.
Acara yang ingin mengembalikan kejayaan dan kecintaan masyarakat terhadap pangan lokal. Pangan lokal saat ini mulai ditinggalkan konsumen karena serangan berbagai macam pangan asing/import yang sebenarnya panganan tersebut bahan dasar hingga proses pembuatannya bukan berada di Indonesia dan menyebabkan kita hanya akan menjadi pembeli di negara yang kaya akan potensi kuliner lokalnya. Selain membagikan makanan lokal seperti lapis talas, bolu tepung ubi dan getuk singkong, kami juga akan melakukan penjelasan singkat disertai pemberian pamflet berupa ajakan dan beberapa data pendukung untuk menyadarkan serta mengajak masyarakat turut serta kembali mencintai pangan lokal.

Sabtu, tanggal 6 Oktober 2012 – Workshop dan Expo
bertempat di Gedung Baru CCR depan Asrama Putri IPB pukul 08.00-15.00 WIB
Fasilitas peserta :
– Seminar kit*
– Coffe Break
– Sertifikat
– Doorpise menarik
Harga Tiket : (masih dalam pembicaraan)

Turut mengahadirkan pembicara-pembicara yang ahli di bidangnya.
1. Bapak Bayu Krisnamurthi (Wakil Menteri Perdagangan RI)*
2. Bapak Achmad Suryana (Kepala Badan Ketahanan Pangan Nasional)
3. Bapak Neddy Rafinaldy Hakim (DEPUTI IV Bid. Pemasaran. Kementrian Koperasi dan UKM)
4. Bapak Ahmad Bastari (Ketua Gapoktan Mandiri Jaya, Desa Cikarawang, Bogor)

Minggu, 14 Oktober 2012 – Penutupan (Funbike, Penanaman Pohon, Makan Besar dan Pasar Makanan)
bertempat di Belakang GWW untuk Start/Finish Funbike, Makan Besar dan Pasar Makanan, Desa Cikarawang belakang Kampus IPB Dramaga untuk penanaman pohon.
Fasilitas Peserta :
– Sepeda Kampus (untuk 300 orang pendaftar pertama)
– Doorprise (3 unit Mounbike Wim Cycle, 10 perlengkapan pengaman berkendara, 10 goody bag)
Harga Tiket : (masih dalam pembicaraan)

Film Dokumenter : Kenali, Pahami dan Hargai

Alhamdulillah Film Pendek Dokumenter bertema “Penghargaan Kerja dan Lingkungan”¬†selesai juga. Ini merupakan pengalaman pertama saya membuat sebuah Film Dokumenter, pengalaman yang tidak akan dilupakan, bukan kualitas pengambilan gambar atau jalan cerita yang membuat hati ini puas. Tapi kerjasama, semangat dan waktu pembuatan bersama teman-teman dari D’Soul HIPMA yang serba cepat dan mepet yang membuat semua berjalan dengan menyenangkan.Turun tangga

Ngobrol

Beberapa snapshot dari Film Dokumenter Kenali, Pahami dan Hargai

Cerita Film Pendek berjudul “Kenali, Pahami dan Hargai” ini sebenarnya terinspirasi dari obrolan ringan saya bersama seorang penjaga ruang kuliah di Fakultas Kehutanan IPB. Beliau bercerita mengenai tingkah laku mahasiswa dan isi hatinya saat itu (sekitar tahun 2011). Ada sedikit kekecewaan dari beliau terhadap oknum¬†mahasiswa yang masih sering membuang sampah¬†dibawah kursi ruang kuliah. Padahal menurut beliau tempat sampah telah disediakan dan untuk membuang sampah itu tidak sesulit dan seberat mengangkat karung-karung semen di proyek bangunan. “Belum lagi kalo ada Aqua Gelas bekas yang masih ada isinya setengah, ditinggal terus kesenggol. Becek semua itu kelas” tambahnya.

Film Dokumenter ini memperlihatkan sisi lain dari kehidupan kita sehari-hari. Kehidupan sebagian mahasiswa diruang kelasnya. Kebiasan yang disengaja atau tidak, sering meninggalkan sampah sisa makanan dilantai kelas. Saat semua mahasiswa sudah selesai kuliah dan pulang kerumah masing-masing, ada beberapa orang yang setiap hari tanpa ada perubahan membersihkan sampah-sampah tersebut. Ada yang mengatakan karena itu sudah tugas dari pekerjaan mereka. Tapi ini bukan permasalahan berdasarkan tugas, kotak mengkotakan berdasarkan pekerjaan dan lain sebagainya. Ini tentang kehidupan yang harus menghargai hal-hal kecil untuk memperoleh suatu hal yang besar. Kebiasaan yang harus mulai dihilangkan. Hal kecil seperti membuang sampah sembarangan, merupakan hal yang harus diputus rantai kebiasaannya. Mulai menghargai pekerjaan orang lain, mulai menghargai hal-hal kecil dan mulai mencintai lingkungan kita sendiri. Itu semua tentang inti dari Film Dokumenter ini.

Di khir Film Pendek Dokumenter ini, dibantu oleh teman-teman Departemen Sosial dan Lingkungan dari HIPMA  juga menyampaikan sebuah pesan tentang solusi yang bisa kita lakukan terkait sampah yang sering kita bawa kedalam kelas. Pahami dan coba terapkan tiga hal ini : TAHAN, SIMPAN dan BUANG. Simpelkan?

Cuplikan scene terakhir Film Pendek Dokumenter : Kenali, Pahami dan Hargai

“Tepung Ubi Jalar Hurip” si Alternatif pengganti Tepung Gandum

Kue Basah dan Kering yang biasa dibuat ibu-ibu rumah tangga

Konsumsi masyarakat Indonesia yang gemar memakan cemilan dan kue basah buatan sendiri menimbulkan banyak pertanyaan di benak saya, disatu sisi menandakan kecintaan masyarakat Indonesia akan makanan olahan negeri sendiri dan terus dilestarikan. Sebut saja kue-kue khas lebaran seperti nastar, putri salju, dan teman-temannya yg lain beserta jajanan yang sangat digemari sebagai pelengkap arisan dan pengajian ibu-ibu rumah tangga seperti risol, pastel dan kerabatnya. Namun disisi lain, tingginya produksi makanan olahan oleh ibu-ibu rumah tangga ini ikut meningkatkan konsumsi tepung gandum yang notabene-nya berasal dari bulir gandum (sumber : Aptindo Online).

Ladang Gandum di Washington dan Italia

Padahal Gandum sendiri tidak bisa ditanam/kualitasnya tidak bisa bagus di Negara Indonesia yang kaya akan sumber daya pertanian. Dapat dikatakan bahwa tingginya tingkat konsumsi masyarakat akan makanan olahan berbahan dasar tepung terigu dari gandum turut menyumbang tingkat impor gandum di Indonesia. Hal ini dapat dibuktikan dari temuan jumlah Impor Gandum tahun 2011 seperti pada artikel Berita Industri yang ditulis oleh Bapak Asnil : Impor Gandum semakin gemuk tahun ini, dari tahun 2010 sebanyak 4,8 juta ton menjadi 5,8 ton.

Lantas bagaimana seharusnya Kita (Saya sebagai penulis dan anda sebagai pembaca tulisan saya) merespon hal tersebut? Negara kita, Indonesia memiliki beberapa pilihan potensi pertanian yang dapat menjadi pengganti tepung terigu yang berasal dari Gandum. Diantaranya adalah Tepung yang berasal dari Ubi Jalar, kami dari Jurusan Agribisnis Institut Pertanian Bogor memiliki Mitra Desa di Daerah Cikarawang Bogor tepatnya bermitra dengan Kelompok Tani Hurip pimpinan Bapak Ahmad Bastari. Para kakak tingkat kami memulai usaha bersama kelompok tani ini dengan mengembangkan potensi Desa mereka (Desa Cikarawang), yakni Ubi Jalar. Tahun-tahun berikutnya kami bersama-sama masayarakat mencari produk turunan yang dapat dihasilkan dari Ubi Jalar, terciptalah Tepung Ubi Jalar.

Tahun 2010 Tepung Ubi Jalar yang bernama Tepung Ubi Jalar Hurip mendapat nomor P-IRT sehingga dapat dijual secara luas. Namun, kami masih terkendala dengan permasalahan pemasaran karena banyak orang yang belum yakin untuk membeli Tepung Ubi Jalar ini untuk dijadikan kue dan makanan olahan lainnya. Namun saya menjamin Tepung ini memiliki tekstur rasa yang tidak kalah dengan Tepung Terigu yang biasa kita temui dipasaran. Beberapa acara yang telah menggunakan tepung Ubi Jalar Hurip antara lain Upgrading Himpunan Profesi Mahasiswa Agribisnis IPB, Penjamuan Tim Penilai Kelompok Tani daerah Bogor Jawa Barat dan Acara Kekeluargaan Civitas Agribisnis IPB. Makanan olahan yang dibuat antara lain Risol, Kue Bolu, Brownies hingga Pempek yang dibuat oleh Kelompok Wanita Tani Melati POKTAN Hurip.

Tepung Ubi Jalar Hurip ini biasa dijual seharga Rp 10-12.000 / 0,5 Kg. Jika anda berminat bisa menghubungi HIPMA IPB via twitter @hipmaIPB. Dilihat dari harga memang cukup mahal dibandingkan Tepung Terigu pada umumnya, tapi hal tersebut disebabkan produksi kelompok tani Hurip yang masih minim. Kami percaya setiap perubahan, khususnya kearah yang lebih baik akan berjalan setahap demi setahap ūüôā

Cintai produk dan hasil pertanian Indonesia ūüôā
Kukuh Prakoso, mahasiswa Agribisnis IPB.

Kecamatan Ciwidey, Bandung

Beberapa waktu yang lalu, saya beserta tim gladikarya dari Departemen Agribisnis Institut Pertanian Bogor wilayah Kecamatan Ciwidey pergi mengunjungi lokasi untuk mengetahui kondisi jalan, potensi serta permasalahan pertanian dan survey tempat tinggal untuk 2 bulan selama Gladikarya (Juni-Agustus).

“Peta perjalanan IPB-Ciwidey menggunakan mobil pribadi”
selengkapnya di Peta Perjalanan ke Ciwidey dari Bogor

Tim kami terdiri dari 8 orang yang merupakan perwakilan dari tiap desa yang ada di Kecamatan Ciwidey, Bandung. Desa-desa yang merupakan tempat Gladikarya kami adalah Desa Rawabogo, Desa Nengkelan, Desa Panundaan dan Desa Lawakmuncang. Secara keseluruhan Kecamatan Ciwidey merupakan kecamatan yang terdiri dari beberapa desa yang memiliki pemandangan yang indah dan berudara sejuk. Kesan pertama kami adalah Kecamatan ini memiliki potensi-potensi pertanian yang sangat baik untuk dikembangkan. Dua desa dari empat desa yang kami kunjungi memiliki Kepala Desa dengan usia yang relatif masih muda, yakni 29 tahun dan 34 tahun. Dua desa tersebut mengaku sering mendapat bantuan dari pemerintah karena keaktifan kepala desanya yang masih muda.

Kecamatan Ciwidey juga memiliki kesan bagi kami, sebagai daerah yang cukup jauh dari pusat kota Bandung, kondisi pemandangan di Kecamatan Ciwidey sangat indah dan Desa-desa di kawasan tersebut merupakan beberapa Desa Wisata unggulan Kota Bandung dengan dikelilingi pegunungan dan sawah yang masih asri.

Mungkin saya hanya menceritakan sedikit pengalaman saya mengenai kesan pertama berkunjung ke Kecamatan Ciwidey, tidak begitu membahas permasalahan pertanian dan solusinya karena tim kami akan membahasnya terlebih dahulu. Namun sebagai tempat wisata, Kecamatan Ciwidey sangat saya rekomendasikan bagi Anda yang memiliki kejenuhan dengan suasana yang berisik, padat penduduk dan udara yang panas. Kecamatan ini menawarkan keindahan pemandangan, hijau pepohonan, senyum warga desa dan yang terpenting adalah Kawah Putih yang sangat cantik ūüôā

Ditulis oleh Kukuh Prakoso 

Berkunjung ke Desa Sukadamai

Hari Minggu ini seperti biasa kegiatan Sahabat Cilik Agribisnis berlangsung, saya berangkat menuju basecamp tempat kita berkumpul sebelum ke SDN 01 Carangpulang didepan mushalla Dept Agribisnis. Kegiatan kami untuk hari ini adalah membuat kerajinan dari botol bekas dan mengubahnya menjadi tempat pensil (untuk info lebih lengkap mengenai tempat pensil daur ulang : Proses Pembuatan) bersama-sama adik-adik disana.

Image

http://sosmasonline.blogspot.com

Namun saya tidak bisa bergabung dengan teman-teman yang lain. Karena harus menghadiri pembukaan Bina Desa FEM (Fakultas Ekonomi dan Manajemen) IPB. Saya memang sudah lama menunggu fakultas kami memiliki desa binaan yang dapat dikembangkan potensi desa dan Usaha Kecil Menengahnya. Saat mengisi materi sekaligus mendengarkan perwakilan dari aparat desa disana (Desa Sukadamai, Bogor) berbicara, saya sempat kaget mendengar begitu banyak potensi usaha yang dapat dikembangkan di desa tersebut. Akhirnya saya tidak memutuskan untuk pulang lebih cepat dan memilih untuk ikut serta ke acara berikutnya, yakni berkunjung langsung kerumah warga dan bisnis yang dikembangkan oleh warga desa. Saya memilih untuk ikut kedalam rombongan yang akan berkunjung ke salah satu pelaku usaha “Sepatu Baby” yang terbilang cukup lama menggeluti bisnis tersebut.

Awal pembicaraan kami dengan Bapak Toha (Pemilik Usaha Sepatu Baby) beliau menceritakan perjalanan bisnisnya sejak tahun 1998 hingga saat ini. Namun pembicaraan makin menarik perhatian saya saat beliau menceritakan permasalahan yang dihadapi didalam menjalankan bisnis tersebut. Beliau berkata bahwa sebenarnya di Desa Sukadamai sebagian warganya dianugerahi bakat membuat sepatu yang telah diakui hingga luar Bogor. Namun permasalahan saat ini adalah beliau dan sesama pelaku usaha Sepatu Baby lainnya tidak bergabung didalam satu kelompok usaha. Saya sempat terdiam melihat beliau bercerita dan harapan beliau di masa yang akan datang, lalu saya teringat dengan Dosen Agribisnis yang selalu menjadi inspirasi saya, yakni Bapak Lukman M. Baga. Apa yang dikatakan olehnya memang benar terjadi di masyarakat dan kebetulan pelaku usahanya sudah sadar akan pentingnya mereka bergabung menjadi sebuah kelompok usaha.

Pak Toha mengaku permasalahannya adalah posisi tawar beliau dan teman-temannya tidak kuat dibandingkan dengan para pengumpul. Walaupun beliau juga berkata bahwa bisnisnya selama ini sudah terbilang cukup maju, beliau tetap menginginkan maju bersama dengan para pengrajin lain bukan malah saling menjatuhkan. Menurut beliau dengan terbentuknya sebuah kelompok pelaku usaha Sepatu Baby Desa Sukadamai, para pengrajin ini akan memiliki posisi tawar yang cukup kuat untuk meminta harga beli dari pengumpul yang lebih baik.

Semoga dengan mendengar cerita beliau tadi, teman-teman dari FEM bisa mewujudkan keinginan masyarakat tersebut dengan menghubungkannya kepada dinas terkait atau IPB terlebih khususnya. Hari ini perjalanan saya ke Desa Sukadamai yang belum pernah saya datangi benar-benar memicu semangat untuk terus mengabdi dan mencoba bermanfaat kepada masyarakat.

Perilaku Konsumen

Kukuh Prakoso
class of consumer behaviour Februari 2012
Department of Agribusiness
college of Faculty of Economic and Management
class notes based on Ujang Sumarwan. 2011. Consumer Behaviour : Theory and Marketing Aplication. PT Ghalia Indonesia
Department of Family and Consumer Sciences
college of Human Ecology
Bogor Agricultural University
Kukuh Prakoso
kelas Perilaku Konsumen Februari 2012
Departemen Agribisnis
mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Manajemen
buku panduan kuliah berasal dari Ujang Sumarwan. 2011. Perilaku Konsumen : Teori dan penerapannya dalam pemasaran. PT Ghalia Indonesia
Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen
Fakultas Ekologi Manusia
Institut Pertanian Bogor

Peran Kelembagaan Agribisnis

Kukuh Prakoso (tugas Koperasi dan Kelembagaan Agribisnis)

Kelembagaan adalah sosial form ibarat organ-organ dalam tubuh manusia yang hidup dalam masyarakat. Kata ‚Äúkelembagaan‚ÄĚ (Koentjaraningrat, 1997) menunjuk kepada sesuatu yang bersifat mantap (established) yang hidup (constitued) di dalam masyarakat. Suatu kelembagaan adalah suatu pemantapan perilaku yang hidup pada suatu kelompok orang. Ia merupakan sesuatu yang stabil, mantap, dan berpola; berfungsi untuk tujuan-tujuan tertentu dalam masyarakat; ditemukan dalam sistem sosial tradisional dan modern, atau bisa berbentuk tradisional dan modern; dan berfungsi untuk mengefisienkan kehidupan sosial.

Setelah mengetahui pengertian tentang apa itu kelembagaan, sebenarnya ada tiga hal penting terkait kelembagaan yang perlu di garis bawahi, yakni sistem sosial masyarakat, efisien dan memiliki tujuan. Berbicara kelembagaan khususnya di bidang pertanian, sangat lekat dengan sistem agrisbisnis. Suatu sistem yang apabila berjalan dengan baik, maka akan menciptakan kondisi yang baik. Kelembagaan termasuk di dalam sistem agrbisnis yang diharapkan dapat bekerja dengan baik didalam sistem social masyakat, efisien dan memiliki tujuan yang mendorong kemajuan masyarakat. Namun, proses yang melibatkan kelembagaan, baik dalam bentuk lembaga organisasi maupun kelembagaan norma dan tata pengaturan, pada umumnya masih terpusat pada proses pengumpulan dan pemasaran dalam skala tertentu. Kelembagaan pertanian dan petani belum terlihat perannya dalam mengatasi permasalahan tersebut. Padahal fungsi kelembagaan agribisnis sangat beragam, antara lain adalah sebagai penggerak, penghimpun, penyalur sarana produksi, pembangkit minat dan sikap, dan lain-lain.

Jika mengambil salah satu contoh dari kelembagaan pertanian, yakni Koperasi. Sebenarnya menurut Lukman M. Baga (2006), pengembangan kelembagaan pertanian baik itu kelompok tani atau koperasi bagi petani sangat penting terutama dalam peningkatan produksi dan kesejahteraan petani, dimana: (1) Melalui koperasi petani dapat memperbaiki posisi rebut tawar mereka baik dalam memasarkan hasil produksi maupun dalam pengadaan input produksi yang dibutuhkan. Posisi rebut tawar (bargaining power) ini bahkan dapat berkembang menjadi kekuatan penyeimbang (countervailing power) dari berbagai ketidakadilan pasar yang dihadapi para petani. (2) Dalam hal mekanisme pasar tidak menjamin terciptanya keadilan, koperasi dapat mengupayakan pembukaan pasar baru bagi produk anggotanya. Pada sisi lain koperasi dapat memberikan akses kepada anggotanya terahadap berbagai penggunaan faktor produksi dan jasa yang tidak ditawarkan pasar. (3) Dengan bergabung dalam koperasi, para petani dapat lebih mudah melakukan penyesuaian produksinya melalui pengolahan paska panen sehubungan dengan perubahan permintaan pasar. Pada gilirannya hal ini akan memperbaiki efisiensi pemasaran yang memberikan manfaat bagi kedua belah pihak, dan bahkan kepada masyarakat umum maupun perekonomian nasional. (4) Dengan penyatuan sumberdaya para petani dalam sebuah koperasi, para petani lebih mudah dalam menangani risiko yang melekat pada produksi pertanian, seperti: pengaruh iklim, heterogenitas kualitas produksi dan sebaran daerah produksi. Dan (5) Dalam wadah organisasi koperasi, para petani lebih mudah berinteraksi secara positif terkait dalam proses pembelajaran guna meningkatkan kualitas SDM mereka.

Namun, ternyata konsep dan semangat Koperasi belum bisa berjalan dengan baik di pedesaan dewasa ini. Banyak kendala dan hambata dalam pengembangan koperasi di pedesaan, diantaranya adalah : (a) rendahnya minat masyarakat untuk bergabung dalam kelompok tani/koperasi, hal ini disebabkan karena kegagalan-kegagalan dan stigma negatif tentang kelembagaan tani/koperasi yang terbentuk di dalam masyarakat. Kegagalan yang dimaksud diantaranya adalah ketidakmampuan kelembagaan tani/koperasi dalam memberikan kebutuhan anggotanya dan ketidakmampuan dalam memasarkan hasil produk pertanian anggotanya. (b) adanya ketergantungan petani kepada tengkulak akibat ikatan yang ditimbulkan karena petani melakukan transaksi dengan para tengkulak (pinjaman modal, dan memasarkan hasil). Dan (c) rendahnya SDM petani di pedesaan menimbulkan pemahaman dan arti penting koperasi terabaikan. Feryanto W.K (2010)

Maka, kesimpulan yang dapat saya tarik mengapa sampai saat ini sistem agribisnis belum berjalan dengan baik adalah sistem agribisnis sebenarnya sudah memberikan dampak yang positif bagi kemajuan pertanian dan perekonomian Indonesia namun belum berjalan dengan baik atau kurang maksismal. Hal ini dikarenakan kelembagaan (misalkan kelompok tani atau Koperasi) yang terdapat didalam sistem agribisnis belum berjalan dengan baik pula dengan masih terdapatnya hambatan dan kendala yang perlu diselesaikan dan dicarikan pemecahannya. Karena didalam suatu sistem apabila ada yang tidak berjalan maka akan berdampak sistemik.