Sang Penghibur

     Aku terbangun dengan kepala yang masih agak pusing akibat terlalu banyak minum tadi malam. Saat ini, jam dinding menunjukkan pukul 11.00 siang. Sebenarnya aku ingin melanjutkan tidur, namun perut ini terlalu lapar dan memaksaku pergi keluar untuk mencari makan. Aku mengambil handuk, baju ganti dan mulai berjalan menuju kamar mandi. Kunyalakan shower dalam keadaan sedang (walaupun tinggal dirumah susun, tapi kamar mandi disini dilengkapi dengan fasilitas shower) dan kubiarkan tetesan airnya terus menerus mengguyur kepala, leher belakang hingga bagian punggung. Dibawah shower inilah biasanya aku menghabiskan waktu terlama dikamar mandi, untuk memikirkan banyak hal tentang hidup ini. Rasa kangen dengan anak, perceraianku dengan istri dan bagaimana mudahnya aku tertipu oleh paras cantik seorang wanita yang berhasil membawa lari hartaku.

      Pukul 12.00 siang, aku sudah rapi dan bersiap keluar rumah untuk mencari makan. Tidak lupa aku juga membawa perlengkapan untuk pertunjukkan nanti malam. Dijalan menuju rumah makan, aku melihat orang-orang yang sedang tertawa dan terlihat bahagia menikmati hari-harinya. Aku hanya bisa terdiam. Seperti biasa, dirumah makan langgananku ini aku memilih tempat dipojok dekat dapur, dipojok ini aku bisa memisahkan diri dari ramainya pengunjung lain yang sedang memperlihatkan kebahagian mereka bersama teman, pacar ataupun keluarganya.

      Jam ditanganku menunjukkan pukul 15.00 sore saat aku tiba ditempat kerjaku sebulan terakhir ini. Café Tawa Penuh Canda “Disinilah tempat anda makan, bersantai dan tertawa sepuasnya”, begitulah motto Café tempatku bekerja. Didepan pintu masuk tertulis, “Pertunjukkan Tawa malam ini : Pukul 19.00” itulah pekerjaanku.

      Dua jam sebelum tampil, aku diberi sebuah amplop berwarna putih oleh manajer Café. Amplop yang berisi setengah gajiku hari ini. Memang seperti itu peraturan disini, setengah lagi dari gajiku dibayar penuh saat pertunjukkan selesai. Gajiku akan dibayar penuh atau syukur-syukur diberi bonus apabila mayoritas pengunjung Café berhasil kubuat tertawa. Amplop itu kumasukkan kedalam tas yang daritadi aku bawa dari rumah. Lalu kukeluarkan perlengkapan make-up dan kostum pertunjukkan untuk hari ini. Setelah satu jam merias diri, aku sudah tidak terlihat seperti pria berantakan yang penuh kesedihan seperti saat masuk kedalam Café ini pada pukul 15.00. Dicermin yang berada dihadapanku, kini terdapat sesosok badut lengkap dengan hidung merah dan perut buncitnya yang terlihat begitu lucu dan menggemaskan.

     Waktu di jam dinding Café menunjukkan pukul 18.30, setengah jam sebelum pertunjukkan dimulai. Aku mencoba untuk melihat dari balik layar panggung, sudah berapa banyak pengunjung yang hadir saat ini. Nampaknya hari ini pengunjung cukup ramai, terlihat ada keluarga yang membawa anaknya dan beberapa lainnya adalah perkumpulan orang kantoran yang sepertinya sedang beristirahat sepulang kerja. Seperti biasa, walaupun sudah sering tampil ditempat ini tetapi rasa grogi tetap hinggap disaat sebelum pertunjukkan dimulai.

     “daaaaan, Pertunjukkan Tawa dimulai!” terdengar suara Narator memberikan informasi kepada pengunjung yang segera dibalas dengan tepuk tangan dan siulan yang meriah. Malam itu aku mengeluarkan seluruh kemampuan candaku, hal-hal terkonyol kulakukan agar orang-orang dihadapanku ini tertawa dan berhasil melupakan semua masalahnya. Karena hanya dengan cara ini aku bisa bertahan hidup dan mendapatkan gaji secara penuh. Upah gaji yang nantinya kugunakana untuk mengirimkan uang kepada anakku yang tinggal bersama ibunya dikota seberang. Dan karena hanya dengan cara ini aku bisa membeli makan dan membayar uang bulanan rumah susun tempat aku tinggal sekarang.

     Pertunjukkan pun selesai, semua bertepuk tangan dan terlihat senyum bahagia diraut wajah mereka saat meninggalkan Café Tawa. Saat-saat setelah pertunjukkan selesai, aku sering berpikir.

      “Aku seorang badut penghibur yang diwajibkan untuk membuat orang lain bahagia dan tertawa melihat tingkahku yang konyol. Mereka hanya tahu betapa lucu dan menggemaskannya aku ini diatas panggung. Saat mereka pulang, mereka mendapatkan apa yang mereka cari. Mereka mendapatkan kepuasan untuk bersantai dan menertawaiku sepuasnya. Mereka bisa tertidur dengan nyenyak dan berhasil melupakan sejenak masalah yang mereka hadapi”

       Tapi yang mereka tidak ketahui adalah ”Disaat make-up ini aku hapus dan kostum ini aku lepas, Aku hanya seorang pria yang hidup dibawah penderitaan dan cobaan yang begitu berat. Aku berjuang membuat mereka tertawa disaat aku seharusnya menangis menghadapi beratnya cobaan. Aku hanya seorang pria yang hidup dalam panggung sandiwara, hidup dalam kepura-puraan. Aku hanya memberikan sandiwara tentang kebahagiaan dan mereka tertawa”

       Kini, Café Tawa Penuh Canda telah sepi. Aku duduk dikursi bar yang kosong, sendiri. Waktu di jam dinding telah menunjukkan pukul 23.30.

         “Pak, saya pesan seperti yang biasa. Tolong buatkan double untuk malam ini”

Kukuh Prakoso, ditulis 14 Februari 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s