Berkunjung ke Desa Sukadamai

Hari Minggu ini seperti biasa kegiatan Sahabat Cilik Agribisnis berlangsung, saya berangkat menuju basecamp tempat kita berkumpul sebelum ke SDN 01 Carangpulang didepan mushalla Dept Agribisnis. Kegiatan kami untuk hari ini adalah membuat kerajinan dari botol bekas dan mengubahnya menjadi tempat pensil (untuk info lebih lengkap mengenai tempat pensil daur ulang : Proses Pembuatan) bersama-sama adik-adik disana.

Image

http://sosmasonline.blogspot.com

Namun saya tidak bisa bergabung dengan teman-teman yang lain. Karena harus menghadiri pembukaan Bina Desa FEM (Fakultas Ekonomi dan Manajemen) IPB. Saya memang sudah lama menunggu fakultas kami memiliki desa binaan yang dapat dikembangkan potensi desa dan Usaha Kecil Menengahnya. Saat mengisi materi sekaligus mendengarkan perwakilan dari aparat desa disana (Desa Sukadamai, Bogor) berbicara, saya sempat kaget mendengar begitu banyak potensi usaha yang dapat dikembangkan di desa tersebut. Akhirnya saya tidak memutuskan untuk pulang lebih cepat dan memilih untuk ikut serta ke acara berikutnya, yakni berkunjung langsung kerumah warga dan bisnis yang dikembangkan oleh warga desa. Saya memilih untuk ikut kedalam rombongan yang akan berkunjung ke salah satu pelaku usaha “Sepatu Baby” yang terbilang cukup lama menggeluti bisnis tersebut.

Awal pembicaraan kami dengan Bapak Toha (Pemilik Usaha Sepatu Baby) beliau menceritakan perjalanan bisnisnya sejak tahun 1998 hingga saat ini. Namun pembicaraan makin menarik perhatian saya saat beliau menceritakan permasalahan yang dihadapi didalam menjalankan bisnis tersebut. Beliau berkata bahwa sebenarnya di Desa Sukadamai sebagian warganya dianugerahi bakat membuat sepatu yang telah diakui hingga luar Bogor. Namun permasalahan saat ini adalah beliau dan sesama pelaku usaha Sepatu Baby lainnya tidak bergabung didalam satu kelompok usaha. Saya sempat terdiam melihat beliau bercerita dan harapan beliau di masa yang akan datang, lalu saya teringat dengan Dosen Agribisnis yang selalu menjadi inspirasi saya, yakni Bapak Lukman M. Baga. Apa yang dikatakan olehnya memang benar terjadi di masyarakat dan kebetulan pelaku usahanya sudah sadar akan pentingnya mereka bergabung menjadi sebuah kelompok usaha.

Pak Toha mengaku permasalahannya adalah posisi tawar beliau dan teman-temannya tidak kuat dibandingkan dengan para pengumpul. Walaupun beliau juga berkata bahwa bisnisnya selama ini sudah terbilang cukup maju, beliau tetap menginginkan maju bersama dengan para pengrajin lain bukan malah saling menjatuhkan. Menurut beliau dengan terbentuknya sebuah kelompok pelaku usaha Sepatu Baby Desa Sukadamai, para pengrajin ini akan memiliki posisi tawar yang cukup kuat untuk meminta harga beli dari pengumpul yang lebih baik.

Semoga dengan mendengar cerita beliau tadi, teman-teman dari FEM bisa mewujudkan keinginan masyarakat tersebut dengan menghubungkannya kepada dinas terkait atau IPB terlebih khususnya. Hari ini perjalanan saya ke Desa Sukadamai yang belum pernah saya datangi benar-benar memicu semangat untuk terus mengabdi dan mencoba bermanfaat kepada masyarakat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s