Terima kasih Bapak Alfred Riedl

Lama juga udah ga posting di blog ini🙂

Sudah dari pagi sebenarnya pingin menulisnya, tapi selalu gagal karena bolak-balik ke kasur pegang buku (besok uts). Tapi pusing juga lama-lama memendam perasaan jengkel ini. Mungkin sudah banyak yang dengar berita bahwa beberapa hari setelah Ketum PSSI yang baru menjabat, dia mengeluarkan keputusan yang bisa dibilang sangat heboh, aneh, atau mungkin kata yang tepat TIDAK DAPAT DIMENGERTI.

Beliau mengambil keputusan untuk mencopot pelatih TIMNAS SENIOR yang berhasil membawa Indonesia bermain di partai final Piala AFF. Mengapa saya bilang keputusan tersebut TIDAK DAPAT DIMENGERTI? Belum hilang dari ingatan saya di Piala AFF kemarin, sekumpulan anak muda pilihan Alfred Riedl berhasil membuat kita semua tersenyum, lompat-lompat, bahkan dengan lantang dan tidak kenal lelah menyanyikan lagu Garuda Didadaku. (saat ini saya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala) saya ingat Piala AFF kemarin saya sempat terjatuh dari motor bersama teman saya beberapa jam setelah membeli tiket pertandingan Indonesia melawan Filiphina. Baru kali ini saya sangat bersemangat menonton TIMNAS saat berlaga di GBK secara langsung, tidak hanya sekali saya menonton TIMNAS secara langsung bahkan dua kali dengan partai final. Saya tahu, antrian di GBK pasti sangat panjang, saya tahu perjalanan saya dari Bogor menuju GBK tidak dapat dikatakan dekat, saya tahu bahwa TIMNAS bisa saja kalah, saya pun tahu bisa saja saya mengalami kecelakan karena mengantuk disaat pulang menuju Bogor di malam hari. Tapi semua pikiran itu saya buang jauh-jauh demi melihat pertandingan TIMNAS yang diasuh oleh Bapak Alfred Riedl. Semangat mereka bertanding, aliran bola yang diberikan Firman, tarian indah dari Okto, Irfan dan Ridwan, berlari menyisir sayap yang dilakukan oleh Nasuha dan Zulkifli, dinginnya Gonzales. Semua itu membuat saya bersemangat dan tak kenal lelah untuk mendukung mereka.

Baru hari Minggu kemarin sebenarnya saya tersenyum dan yakin bahwa TIMNAS akan bisa berbicara melawan Turmenistan di pertandingan pra piala dunia nanti. Ya..saya melihat nama Boaz diantara nama-nama yang dibawa Bapak Alfred Riedl, itu membuat saya semakin bersemangat menebak gaya permainan apa yang akan dilakukan oleh TIMNAS setelah Boaz masuk. Tapi tiba-tiba beberapa hari setelah pengumuman itu, kabar mengejutkan datang, Bapak Alfred Riedl dicopot dari jabatannya sebagai pelatih TIMNAS. Saya benar-benar terkejut dan tidak habis pikir. Ini terlalu mendadak dan terlalu dekat dengan pertandingan melawan Turmenistan di kandang mereka. Media cetak, elektonik hingga radio mengabarkan berita ini, semua menerka-nerka apa yang dipikirkan oleh Ketum PSSI kita yang baru. Jika memang permasalahannya ada di administrasi, mengapa tidak menunggu setelah TIMNAS menjalani dua laga melawan Turmenistan lalu secara baik-baik memecatnya dan jika memang Bapak Alfred Riedl melatih dengan baik, PSSI yang baru bisa mengontraknya lagi dengan kontak yang lebih jelas. Mengganti pelatih bukan sebuah kebijakan yang bisa diambil begitu saja. Butuh waktu lagi bagi para pemain untuk beradaptasi dengan gaya permainan yang diinginkan oleh pelatih baru, butuh waktu lagi bagi pelatih untuk mengetahui kemampuan tiap anggota timnya. Ini bukan seperti memecat pembantu dan dengan mudah menemukan pembantu yang baru. Ini seperti kehilangan seorang pacar dan membutuhkan waktu untuk menemukan seseorang yang bisa menggantikannya, butuh pendekatan, memahami satu sama lain hingga akhirnya cocok dan bisa berjalan bersama-sama.

Tapi ya apalah saya ini.

Saya hanya berharap pelatih TIMNAS yang baru dapat bekerja dengan maksimal dan semoga tidak ada tekanan bagi dia untuk mengembangkan permainan sesuai harapannya.

Terima kasih Bapak Alfred Riedl telah memberikan senyuman bagi kami selama menanganani TIMNAS. Terima kasih atas pelajaran tentang semangat pantang menyerah yang sangat baik bagi seluruh pemain TIMNAS, bahwa bermain diluar kandang boleh saja kita kalah, tapi tidak untuk di kandang. Mungkin saya akan merindukan sapaan dan lambaian tangan yang selalu Bapak berikan kepada suporter Indonesia disaat mengecek lapangan sebelum laga dimulai. Mungkin saya akan merindukan saat-saat dimana saya menertawakan Bapak, disaat semua offisial, suporter dan pemain merayakan gol tapi Bapak hanya diam terpaku bahkan terkadang tetap serius di pinggir lapangan.

Terima kasih Bapak Alfred Riedl, semoga anda tetap sukses dimanapun anda bekerja nantinya.

2 thoughts on “Terima kasih Bapak Alfred Riedl

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s