Celotehan tangan

"saya tidak pandai bersilat lidah, jadi biarkan jemari ini yang bercerita dengan lincah"

Film Dokumenter : Kenali, Pahami dan Hargai

Alhamdulillah film pendek dokumenter bertema “Penghargaan Kerja dan Lingkungan Kebersihan” selesai juga. Ini merupakan pengalaman pertama saya membuat sebuah Film Dokumenter, pengalaman yang tidak akan dilupakan dengan cepat, bukan kualitas pengambilan gambar atau jalan cerita yang membuat hati ini puas. Tapi kerjasama, semangat dan waktu pembuatan yang relatif cepat yang membuat semua berjalan dengan menyenangkan.

Cerita Film Pendek ini sebenarnya terinspirasi oleh perkataan seorang penjaga ruangan kuliah di Fakultas Kehutanan IPB. Beliau bercerita kepada saya mengenai tingkah laku mahasiswa dan isi hati beliau saat itu (Tahun 2011). Ada sedikit kekecewaan dari beliau terhadap oknum mahasiswa yang masih sering membuang sampah dibawah kursi ruang kuliah. Padahal menurut beliau tempat sampah telah disediakan dan untuk membuang sampah itu menurut beliau tidak sesulit dan seberat mengangkat karung semen di proyek bangunan.

Semoga dengan adanya Film Pendek Dokumenter ini bisa membuka mata mahasiswa yang menyaksikan bahwa ada mereka yang setiap hari dikala ruang kelas sudah sepi dan langit mulai gelap selalu membersihkan ruang kuliah dengan telaten dan bersabar membersihkan sampah yang berceceran dimana-mana.

Sebenarnya di akhir Film Pendek Dokumenter ini, Kami (Departemen Sosial dan Peduli Lingkungan HIPMA IPB) juga menyempilkan sebuah pesan tentang solusi yang bisa kita lakukan terkait sampah yang kita bawa kedalam kelas. Pahami dan terapkan 3 hal penting ini : TAHAN, SIMPAN dan BUANG. Simpelkan?
Semoga Film Pendek Dokumenter dapat bermanfaat :)

Cuplikan scene terakhir Film Pendek Dokumenter : Kenali, Pahami dan Hargai

Timnas Indonesia?

Dahulu, saya tidak begitu menyukai permainan Timnas Indonesia. Bukan karena tidak cinta dengan Timnas sendiri, tapi saya tidak suka dengan cara Timnas bermain. “Bola entah dimana, yang diambil malah kaki lawan. Teman ada dimana, bola malah diberikan kepada lawan. Postur badan kita kecil, bola malah selalu dimainkan dengan umpan jauh yang tidak terarah” (itu sangat dulu saat kumis yang ada diatas bibir belum dicukur tiap 2 minggu sekali, haha)

Selama 10 tahun menonton Timnas bertanding anggap saja dari tahun 2000-2010, pemain Indonesia yang bermain untuk Timnas saya bisa hapal, karena memang pemain-pemainnya itu saja. Didepan pasti ada Bambang Pamungkas, tengah selalu diisi Syamsul dan Ponaryo. Lantas saya dan anda waktu itu berteriak “Bosan! Ga ada regenerasi! Pemain Indonesia udah tua-tua! Mainnya gini mulu!”

Lantas sekitar tahun 2009-2011 muncul wajah-wajah baru pengisi barisan pemain Timnas. Sebut saja Boaz, Firman Utina, Eka Ramdani, Zulkifli hingga Irfan Bachdim. Pelatih-pelatih berpengalaman mulai datang untuk melatih Timnas, sebut saja Peter White hingga Alfred Riedl. Permainan mereka mulai ada peningkatan, kedisiplinan yang diterapkan pelatih mulai berjalan baik, kita mulai bermain dari kaki Playmaker yang biasanya kita lakukan dengan umpan jauh dari bek tengah. Operan-operan pendek, buka ruang dan semangat pantang menyerah anak muda pemain Timnas menghiasi pemandangan ditiap pertandingan Timnas. Saya yang biasa hanya menonton di Telivisi sampai menonton langsung di stadion GBK karena ikut terbawa euforia kebangkitan Timnas. Tapi tiba-tiba?

Kasus KORUPSI melanda PSSI, ketidak-transparan hasil penjualan tiket hingga dualisme liga Indonesia silih berganti menghiasi berita-berita terkait Sepakbola dan Timnas Indonesia. Puncak dari rasa kekecewaan saya adalah saat pemecatan Alfred Riedl dan Kongres Anak Kecil yang menyatakan diri mereka sebagai penyelamat sepakbola Indonesia (ternyata penyelamat beberapa oknum yang memiliki keinginan terhadap kekuasaan di PSSI dan hanya bisa berkelahi satu sama lain).

“Jika Anda-anda yang ada disana (PSSI) ingin menyelamatkan Sepakbola Indonesia. Tolong lah bekerja untuk kemajuan Bangsa ini, karena diakui atau tidak hanya Permainan Sepakbola Timnas hiburan bagi kami sebagai rakyat Indonesia (ya, karena dari kecil kami selalu bermain sepakbola di lapangan penuh lumpur dan bergawang sandal. Ini Olahraga Rakyat!), hanya itu pemicu semangat kami ditengah permasalahan Bangsa yang semakin hari malah semakin bertambah” Kukuh Prakoso, Rakyat Indonesia

“Bung, INI INDONESIA! Bendera kita merah-putih. Jika Bung benar-benar ingin memajukan Sepakbola Bangsa ini, bekerjalah hanya untuk merah-putih dan seluruh rakyatnya. Bukan untuk warna Biru, Kuning, hanya Merah atau lainnya.” Kukuh Prakoso, Rakyat Indonesia

Kekesalan saya ini cukup mendasar dan mungkin dirasakan juga oleh rakyat Indonesia yang lain. Beberapa pertandingan terakhir, saya sedih melihat Timnas. Timnas bukan ajang coba-coba pemain dan pelatih! 3 pertandingan 3 pelatih berbeda? 3 pertandingan 30 pemain berbeda? Kalau mau coba-coba dan asal main lakukan di Kompetisi Domestik, buat Kompetisi yang benar. Duduklah kalian dua kubu yang berseteru itu. Karena Timnas harus dibangun dengan Konsep dan Pembinaan yang berkelanjutan. Anda minta kami bersabar? 10 tahun? 20 tahun? Kami bisa terima, asal kan pembinaan itu benar-benar dilakukan dengan cara yang benar. Kalau pertandingan akhir-akhir ini Anda bilang untuk menambah pengalaman pemain muda, mengapa pemain muda selalu berubah-ubah dalam 3 pertandingan? Seleksi? Ini pertandingan Internasional biarpun hanya sekedar pertandingan persahabatan, Kompetisi Internasional, MAKSIMAL. Memberi pengalaman bagi pemain muda? Lantas apa kabar dengan pemain-pemain muda kita yang menimba ilmu di Uruguay? Vise? Jika ingin memberikan pengalaman pemain muda, berikan mereka pengalaman sebagai pemain Timnas di negeri mereka sendiri, kalah tidak apa-apa. Karena itu lah pembinaan yang sebenarnya, mereka sudah cukup lama bermain bersama sebagai satu tim, berikan mereka kesempatan untuk bermain bersama pula tapi menggunakan seragam Timnas Indonesia.

Hanya sekedar Tulisan yang berasal dari hati seorang yang sangat kecewa dengan sistem di tubuh asosiasi sepakbola Indonesia.
Kukuh Prakoso, Rakyat Indonesia.

“Tepung Ubi Jalar Hurip” si Alternatif pengganti Tepung Gandum

Kue Basah dan Kering yang biasa dibuat ibu-ibu rumah tangga

Konsumsi masyarakat Indonesia yang gemar memakan cemilan dan kue basah buatan sendiri menimbulkan banyak pertanyaan di benak saya, disatu sisi menandakan kecintaan masyarakat Indonesia akan makanan olahan negeri sendiri dan terus dilestarikan. Sebut saja kue-kue khas lebaran seperti nastar, putri salju, dan teman-temannya yg lain beserta jajanan yang sangat digemari sebagai pelengkap arisan dan pengajian ibu-ibu rumah tangga seperti risol, pastel dan kerabatnya. Namun disisi lain, tingginya produksi makanan olahan oleh ibu-ibu rumah tangga ini ikut meningkatkan konsumsi tepung gandum yang notabene-nya berasal dari bulir gandum (sumber : Aptindo Online).

Ladang Gandum di Washington dan Italia

Padahal Gandum sendiri tidak bisa ditanam/kualitasnya tidak bisa bagus di Negara Indonesia yang kaya akan sumber daya pertanian. Dapat dikatakan bahwa tingginya tingkat konsumsi masyarakat akan makanan olahan berbahan dasar tepung terigu dari gandum turut menyumbang tingkat impor gandum di Indonesia. Hal ini dapat dibuktikan dari temuan jumlah Impor Gandum tahun 2011 seperti pada artikel Berita Industri yang ditulis oleh Bapak Asnil : Impor Gandum semakin gemuk tahun ini, dari tahun 2010 sebanyak 4,8 juta ton menjadi 5,8 ton.

Lantas bagaimana seharusnya Kita (Saya sebagai penulis dan anda sebagai pembaca tulisan saya) merespon hal tersebut? Negara kita, Indonesia memiliki beberapa pilihan potensi pertanian yang dapat menjadi pengganti tepung terigu yang berasal dari Gandum. Diantaranya adalah Tepung yang berasal dari Ubi Jalar, kami dari Jurusan Agribisnis Institut Pertanian Bogor memiliki Mitra Desa di Daerah Cikarawang Bogor tepatnya bermitra dengan Kelompok Tani Hurip pimpinan Bapak Ahmad Bastari. Para kakak tingkat kami memulai usaha bersama kelompok tani ini dengan mengembangkan potensi Desa mereka (Desa Cikarawang), yakni Ubi Jalar. Tahun-tahun berikutnya kami bersama-sama masayarakat mencari produk turunan yang dapat dihasilkan dari Ubi Jalar, terciptalah Tepung Ubi Jalar.

Tahun 2010 Tepung Ubi Jalar yang bernama Tepung Ubi Jalar Hurip mendapat nomor P-IRT sehingga dapat dijual secara luas. Namun, kami masih terkendala dengan permasalahan pemasaran karena banyak orang yang belum yakin untuk membeli Tepung Ubi Jalar ini untuk dijadikan kue dan makanan olahan lainnya. Namun saya menjamin Tepung ini memiliki tekstur rasa yang tidak kalah dengan Tepung Terigu yang biasa kita temui dipasaran. Beberapa acara yang telah menggunakan tepung Ubi Jalar Hurip antara lain Upgrading Himpunan Profesi Mahasiswa Agribisnis IPB, Penjamuan Tim Penilai Kelompok Tani daerah Bogor Jawa Barat dan Acara Kekeluargaan Civitas Agribisnis IPB. Makanan olahan yang dibuat antara lain Risol, Kue Bolu, Brownies hingga Pempek yang dibuat oleh Kelompok Wanita Tani Melati POKTAN Hurip.

Tepung Ubi Jalar Hurip ini kami jual seharga Rp 10-12.000 / 0,5 Kg. Jika anda berminat bisa menghubungi saya via sms ke 085715161061. Dilihat dari harga memang cukup mahal dibandingkan Tepung Terigu pada umumnya, tapi hal tersebut disebabkan produksi kelompok tani Hurip yang masih minim. Kami percaya setiap perubahan, khususnya kearah yang lebih baik (menggantikan Tepung Terigu Gandum dengan Tepung Ubi Jalar) akan berjalan setahap demi setahap :)

Cintai produk dan hasil pertanian Indonesia :)
Kukuh Prakoso, mahasiswa Agribisnis IPB.

Sate Ambal Pak Kasman asli Ambal, Kebumen

Setiap berkunjung ke Kebumen, Jawa Tengah, sisihkanlah waktu sedikit untuk berwisata kuliner khas kota ini. Cita rasa Jawa Tengah yang manis akan tersaji di setiap kulinernya. Namun jika anda penggemar sate dan sedang mampir ke Kebumen, cobalah untuk mencicipi salah satu Sate khas Kebumen, namanya Sate Ambal.

Sejarah Sate Ambal :  awalnya terdapat sebuah desa kecil kawasan pantai selatan Pulau Jawa, (Jalan Lintas Selatan-Selatan) tepatnya di Desa Ambal Resmi,wilayah Kec. Ambal Kab. Kebumen, Jawa Tengah terdapat makanan sate ayam yang tidak kalah cita rasanya dengan Sate Ayam pada umumnya. Sate Ayam buatan masyarakat Desa Ambal Resmi, selain cita rasanya yang khas juga unik karena bumbunya menggunakan campuran tempe kedelai. Karena yang membuat masyarakat Ambal secara turun-temurun maka sate ayam ini populer dengan sebutan Sate Ambal.
Berkat kekhasan dan keunikan itulah tidak kepalang tanggung pada saat kunjungan kerja Presiden Megawati Soekarnoputri ke Kab. Kebumen, salah satu menu utamanya adalah sate ayam Ambal yang kesohor di wilayah itu. Bahkan, Gubernur Jawa Tengah H. Mardiyanto (sekarang Mendagri) pun menyempatkan diri berkunjung ke salah seorang pedagang sate ayam langsung di Desa Ambal Resmi untuk bersantap di tempat itu. “Tidak sedikit pejabat yang singgah ke warung-warung sate ayam Ambal di Desa Ambal Resmi ini,” (dikutip dari Blog Hary Soemarwoto)

“Keunikan Sate Ambal adalah terletak pada bumbu satenya, Bumbu siramnya terbuat dari tempe yang dihaluskan dicampur cabe dan rempah-rempah lainnya. Makan nasi aja pake bumbunya doang udah enak, gimana ditambah Sate Ayam yang empuk-umpuk, hehe. Cita rasa tersendiri yang sangat khas dan hanya dimiliki Sate Ambal.”

Saat berlibur kerumah nenek beberapa waktu yang lalu, saya meluangkan waktu sebentar untuk mampir ke salah satu Warung Sate Ambal yang konon sangat terkenal di daerah Kebumen dan merupakan penjual Sate Ambal yang lumayan sepuh, yakni Sate Ambal Pak Kasman asli Ambal. Warung Sate Ambal legendaris ini bertempat di Jalan Raya Kutowinangun No. 178 Kebumen. Jika sudah di daerah Kutowinangun, tanyakan saja ke warga sekitar sate ambal pak kasman, semua tau! :)

Harga Sate Ambal untuk satu porsi adalah Rp 18.000/20 tusuk.
Selamat berwisata kuliner :)

The Jakarta Post : Determined graduates set up social welfare organization

The Jakarta Post, Jakarta | Sun, 03/20/2011

“It might sound like nothing, but it meant everything to them when we came and played with them,” Marta Herdian Dinata of Kakak Asuh said about his visit to a school for children suffering from mental retardation.

They told stories and played music for the kids.

“They were so happy, they just needed friends to play with, just like other children,” he said.

Marta and his friends from the Faculty of Psychology at Mercu Buana University founded Kakak Asuh, a small social welfare club of 10 people that aims to improve the quality of living of under-privileged children.

The idea of setting up the organization came to them after they had finished their studies. They were determined to do more outside of school. Marta said the club cooperated with several children charity and aid foundations as well as with the student body at their university.

“We haven’t done much as we just founded Kakak Asuh last year, but we’ve set some agendas for the near future, including a mass circumcision [for Muslim children],” he said.

Besides teaching students about child psychology, the club also gives them insight into running an organization, Marta said.

“This is the least I can do for society. And in someways, it gives meaning to my life,” he said.

Similar to Kakak Asuh, Sahabat Anak (Friend of Kids) also deals a lot with children, especially street children Students from various universities volunteered to organize the first Street Children’s Jamboree in 1997 to commemorate National Children’s Day. Sahabat Anak is the extension of Jamboree, but took its own name in 2005.

“Most of us were final-year university students. We started it with all the limitations, but with strong determination, and we’ve made it,” Linayati Tjindra, one of the co-founders said.

Sahabat Anak now has seven children’s study centers in Jakarta: Sahabat Anak Prumpung, Grogol, Cijantung, Gambir, Manggarai, Tanah Abang and Mangga Dua.

Through Sahabat Anak, she said, she wanted street children to be able to overcome the stigma that they were naughty, filthy and impolite.

“We don’t want them to feel that way, and we don’t want people to think of them that way,” she said.

They gave the children math lessons so that they would not be cheated out of money, taught them how to read and tried to provide them with someone who could act as a role-model for manners and ethics.

“Just simple manners, like saying thank you and please, or that it is bad to use curse words. And we give them compliments when they do something well, so that they can do the same to other people too,” Linayati said.

She said that although the work could be stressful at times, the results were worth the effort.

“The feeling of knowing that the kids can continue their studies, can work in a much better place, is indescribable. It encourages me to keep working,” she said.

Besides social organizations that are independently run by students, students’ executive bodies at universities usually have social organizations that channel students’ interests to help develop society.

At the Bogor Institute of Agriculture (IPB) for instance, in each faculty, they have Bina Desa, an internal organization that allows its students to help a village further develop its potential. Kukuh Prakoso, coordinator of Bina Desa from the Agribusiness department said that he and his friends had gone to Ciaruteun Ilir, Bogor, West Java, and tried to help local people find another source of income.

“Many people there are paid to tie spinach into bundles for vendors. We’re trying to help them get additional income,” he said.

They came to Ciaruteun Ilir three years ago and held discussions with locals before finding the best way to gain additional income. They decided to make chips from spinach and sell them for Rp 1,500 each.

“We’re planning to sell it to markets next year. The chips are currently sold only to students or lecturers at our school,” he said.

University of Indonesia sociologist Ricardi S. Adnan said that student involvement in social organizations was not a new thing; and that some students had been involved since high school.

“But those who love to engage themselves to help people have more room here in college,” he said.

“Besides, they usually see more of their surroundings when they’re in college, and thus their empathy to do more for society grows,” Ricardi said.

To sustain the organization, he suggested that the participants pass on the knowledge that they gained within the organization to others.

“It won’t work well if the batten is not passed on. They need to share the core values of what they’ve done with their juniors.”

ditulis oleh. Novia D. Rulistia
http://www.thejakartapost.com/news/2011/03/20/determined-graduates-set-social-welfare-organization.html

Kecamatan Ciwidey, Bandung

Beberapa waktu yang lalu, saya beserta tim gladikarya dari Departemen Agribisnis Institut Pertanian Bogor wilayah Kecamatan Ciwidey pergi mengunjungi lokasi untuk mengetahui kondisi jalan, potensi serta permasalahan pertanian dan survey tempat tinggal untuk 2 bulan selama Gladikarya (Juni-Agustus).

“Peta perjalanan IPB-Ciwidey menggunakan mobil pribadi”
selengkapnya di Peta Perjalanan ke Ciwidey dari Bogor

Tim kami terdiri dari 8 orang yang merupakan perwakilan dari tiap desa yang ada di Kecamatan Ciwidey, Bandung. Desa-desa yang merupakan tempat Gladikarya kami adalah Desa Rawabogo, Desa Nengkelan, Desa Panundaan dan Desa Lawakmuncang. Secara keseluruhan Kecamatan Ciwidey merupakan kecamatan yang terdiri dari beberapa desa yang memiliki pemandangan yang indah dan berudara sejuk. Kesan pertama kami adalah Kecamatan ini memiliki potensi-potensi pertanian yang sangat baik untuk dikembangkan. Dua desa dari empat desa yang kami kunjungi memiliki Kepala Desa dengan usia yang relatif masih muda, yakni 29 tahun dan 34 tahun. Dua desa tersebut mengaku sering mendapat bantuan dari pemerintah karena keaktifan kepala desanya yang masih muda.

Kecamatan Ciwidey juga memiliki kesan bagi kami, sebagai daerah yang cukup jauh dari pusat kota Bandung, kondisi pemandangan di Kecamatan Ciwidey sangat indah dan Desa-desa di kawasan tersebut merupakan beberapa Desa Wisata unggulan Kota Bandung dengan dikelilingi pegunungan dan sawah yang masih asri.

Mungkin saya hanya menceritakan sedikit pengalaman saya mengenai kesan pertama berkunjung ke Kecamatan Ciwidey, tidak begitu membahas permasalahan pertanian dan solusinya karena tim kami akan membahasnya terlebih dahulu. Namun sebagai tempat wisata, Kecamatan Ciwidey sangat saya rekomendasikan bagi Anda yang memiliki kejenuhan dengan suasana yang berisik, padat penduduk dan udara yang panas. Kecamatan ini menawarkan keindahan pemandangan, hijau pepohonan, senyum warga desa dan yang terpenting adalah Kawah Putih yang sangat cantik :)

Ditulis oleh Kukuh Prakoso 

New Jersey Liverpool 2012-2013

Masa kejayaan Liverpool era 80an nampaknya menjadi tema pada Jersey terbaru Liverpool musim depan, dengan logo apparel barunya (Warrier Sport) Liverpool memilih motif simpel dan classic pada Jersey barunya. Dibagian belakang Jersey terpampang angka “96″ yang merupakan penghormatan atas tragedi Hillsborough.

Post Navigation

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.